Penyakit Tanaman Pertanian

Contoh Soal Kavpeld dan Rotasi Panen

Area statement Divisi I Estate Gemburi per Januari 2017 terdiri dari areal TM tahun tanam 2010 seluas 450 ha dan areal TBM tahun tanam 2013 seluas 150 ha.  Luas blok rata-rata 30 ha sehingga jumlah blok di Divisi I ada 20 blok (Blok A-1 s/d A-4, B-1 s/d B-4, C-1 s/d C-4, D-1 s/d D-4 dan E-1 s/d E-4).

Produksi per hektar per tahun untuk TM tahun tanam 2010 mencapai 24 ton.  Dari hasil sensus, rata-rata kerapatan panen setiap blok adalah 50%.  Populasi tanaman disetiap blok rata-rata 4.080 pokok.

Untuk pengangkutan buah dari lapangan ke pabrik, Divisi I hanya mendapat jatah kendaraan dump truck setiap harinya 3 unit saja.  Kapasitas angkut setiap dump truck yang diijinkan adalah 5 ton.

Tenaga panen di Divisi I cukup tersedia sesuai standard (0,08 HK/ha) dan output pemanen per hari per orang bisa mencapai 1,25 ton TBS.

Selaku kepala Divisi I, harus dapat membuat perencanaan panen yang baik agar buah matang dapat dipanen 100% dan tidak terjadi restan di lapangan. 
Pertanyaan :
a. Buat dan gambarkan rotasi panen yang realistis sesuai dengan kondisi lapangan, potensi buah, jumlah tenaga panen dan jumlah kendaraan dump truck ?.  Berapa luas areal TM yang harus dipanen setiap harinya ? Penggambaran rotasi panen untuk bulan Pebruari 2017 saja.
b. Berapa produksi TBS per hari yang dapat dikirim ke pabrik tanpa meninggalkan restan di lapangan ?.
c. Berapa trip kendaraan dump truck harus mengangkut buah ke pabrik setiap harinya agar buah di lapangan dapat terangkut seluruhnya ?.
d. Jika semester II/2017 tanaman tahun 2013 sudah TM, bagaimana saudara menyusun rotasi panennya ? 
Berapa jumlah pemanen dan kendaraan dump truck yang diperlukan agar buah seluruhnya dapat terangkut ?. Diketahui produksi per hektar per tahun tanaman 2013 hanya 12 ton dan output pemanen hanya 900 kg/HK/hari.

Cara dan Teknis Sensus Produksi Semester

Sensus produksi adalah penghitungan buah (TBS) untuk mendapatkan estimasi produksi dalam 6 bulan ke depan.  Buah yang dihitung adalah mulai dari bunga yang sudah antesis sampai buah masak yang 1 minggu akan dipanen.
Tujuan sensus produksi adalah untuk mengetahui besarnya produksi TBS yang dihasilkan masing-masing blok dan tahun tanam di dalam periode satu semester atau 6 bulan ke depan. Kebenaran dan keakuratan data sensus (jumlah janjang dan BJR) sangat penting dalam rangka penekanan losses produksi di lapangan. Indikator terjadinya losses produksi di lapangan diantaranya dapat dilihat dari tidak tercapainya jumlah produksi sesuai hasil sensus.  Ada 3 (tiga) hal yang menyebabkan tidak tercapainya produksi hasil sensus :

  1. Jumlah janjang sensus tidak tercapai (buah masak tinggal di pokok).
  2. BJR sensus tidak tercapai (pengutipan brondolan dan problem transportasi buah).
  3. Jumlah janjang dan BJR sensus tidak tercapai.

A. Penaksiran Produksi Semester
1. Waktu Pelaksanaan
  • Semester I : Desember s/d Januari
  • Semester II : Juni s/d Juli
2. Tenaga Pelaksana
  • Tim sensus yang sudah terlatih
3. Alat-alat yang Digunakan
  • Kayu untuk pokok tinggi
  • Formulir dan alat tulis
B. Cara Kerja Sensus
  1. Dimulai dari blok nomor kecil
  2. Jumlah pohon disensus 5 - 10%
  3. Kayu kait disangkutkan pada salah satu janjang (sebagai tanda awal penghitungan) dan selanjutnya petugas menghitung semua janjang yang ada pada pokok tersebut.
  4. Janjang yang dihitung adalah : mulai dari bunga betina yang sudah dibuahi (bunga cengkeh, yang diperkirakan siap dipanen 5-6 bulan berikutnya) hingga janjang yang akan dipanen pada bulan terakhir semester (semester untuk sensus).
  5. Janjang yang diperkirakan akan dipanen pada akhir bulan semester berjalan tidak dihitung
  6. Hasil penghitungan dipindahkan ke dalam formulir sensus.
C. Penimbangan Berat Janjang Rata-rata
1. Waktu Pelaksanaan
  • Bersamaan dengan penaksiran produksi semester
2. Tenaga Pelaksana
  • Tim sensus yang sudah terlatih
3. Alat-alat yang Digunakan
  • Timbangan gantung 100 kg
  • Goni eks pupuk
  • Tali nilon Ǿ 0,5 cm
  • Parang/kapak
  • Gancu
  • Formulir dan alat tulis
4. Cara Kerja Penimbang BJR
a. Timbang di lokasi
  • Penimbangan BJR dilakukan mengikuti blok-blok yang akan dipanen dan dilakukan setelah ± ¾ dari jumlah TPH pada blok tersebut terisi janjang panen hari tersebut.
  • Ditegaskan agar angkutan/transport buah tidak mendahului mengangkut janjang yang akan ditimbang (agar dikoordinasikan antara afdeling dengan pihak traksi/angkutan).
  • Petugas menimbang TBS hasil panen pada TPH-TPH yang telah ditentukan atas dasar :
- Perkiraan/ramalan jumlah janjang yang akan dipanen pada hari tersebut, dengan ketentuan jumlah janjang yang ditimbang minimal 15% dari total perkiraan janjang yang dipanen pada hari tersebut.
- Sesuai perkiraan variasi kondisi areal dalam blok. Contoh TPH no : 1, 5, 9, 13, 17, 21, 25, 29, 33 & 37.
  • Penimbangan dilakukan terhadap seluruh janjang pada TPH yang telah ditentukan.  Oleh karena penimbangan terhadap seluruh janjang tidak dapat dilakukan sekaligus, maka penimbangan dilakukan beberapa kali sampai seluruh janjang ditimbang.  Penimbangan termasuk total brondolan yang terdapat di TPH.
  • Untuk blok yang mempunyai dua tahun tanam agar penimbangannya dipisahkan.
  • Hasil penimbangan dipindahkan dalam formulir yang telah tersedia.
b. Timbang Transport/ Timbang Di Pabrik
  • Seluruh janjang yang dipanen dari satu blok dihitung secara detil, diangkut terpisah (tidak tercampur dengan janjang dari blok lain) dan ditimbang di pabrik.  Jumlah tonase kemudian dibagi dengan jumlah janjang yang ada sehingga didapat berat janjang rata-rata (BJR).  Dengan demikian penghitungan jumlah janjang harus tepat dan akurat.
D. Administrasi Pelaksanaan Sensus
  • Formulir yang telah terisi dari tiap-tiap blok dikumpulkan dan dibukukan menjadi satu buku di Kantor Afdeling untuk digunakan kembali saat sensus Semester II.
  • Kumpulkan formulir tersebut di atas dari seluruh blok dalam wilayah afdeling/divisi yang bersangkutan dan kemudian direkap dalam formulir yang tersedia dan dibuat 2 (dua) rangkap, yaitu satu dikirimkan ke Kantor Besar Kebun (untuk tim Riset) dan satu untuk arsip di afdeling.
  • Hasil rekap tersebut direkap kembali oleh Adminsitrasi Tanaman menurut tahun tanam menjadi data total satu kebun.

Pembayaran Upah Panen

Dasar dari pembayaran panen kelapa sawit adalah : 
1. Biaya panen per ton atau per kg TBS berdasarkan budget.
2. Jumlah basis TBS didasarkan pada faktor sebagai berikut :
  • Rata–rata kemampuan kerja seorang pemanen adalah 7 jam per hari  pada hari Senin sampai Kamis dan 5 jam pada hari Jum’at.
  • Keadaan tinggi tanaman sesuai dengan tahun tanam.
3. Setelah mencapai target/basis, kepada karyawan diberikan kesempatan dan harus dimotivasi untuk meneruskan panen sebagai lebih borong dengan tarif yang menarik untuk karyawan sendiri maupun untuk perusahaan.
4. Sistem premi harus disertai sanksi–sanksi atau denda yang cukup adil, baik untuk karyawan sendiri maupun untuk perusahaan.
5. Standar premi yaitu tarif siap borong (termasuk kutip brondolan), lebih basis, denda–denda dan jumlah TBS lebih borong, harus memperhatikan anggaran yang sedang berjalan dan standard premi sebelumnya, apakah sesuai anggaran dan masih cukup menarik.

SISTEM DAN STANDARD PREMI PANEN
1. Borong Tandan 
Harus diatur sedemikian rupa, sehingga jumlah tandan yang ditetapkan bagi pemanen dalam waktu 7 jam kerja untuk setiap tahun tanam dapat diselesaikan dengan mencapai jumlah kilogram tertentu.  Oleh karena itu, borong tandan harus langsung berhubungan dengan BJR kebun dan BJR kebun langsung berhubungan dengan umur tanaman.

2. Tarif Premi Panen (Premi Basis atau Siap Borong)
Premi basis atau siap borong harus berpedoman kepada anggaran (Rp/ton TBS) yang sedang berjalan dan tarif yang berlaku sebelumnya. Premi siap borong harus sama untuk semua umur tanaman. Yang berbeda adalah lebih basis atau lebih borongnya.
Perhitungan Premi Pemanen (PP) : Kelebihan (kg atau tandan) x tarif (nilai premi) Rp/kg atau Rp……/tandan. Nilai premi ini sangat bervariasi, sesuai ketentuan masing-masing perusahaan
Pada beberapa perusahaan perkebunan nilai premi beberapa penjumlahan NPK + NPM

3. Tarif Premi Lebih Borong (Over Borong)
Tentukan kelas-kelas BJR dahulu, kemudian tetapkan harga per tandan lebih basis/borong menurut kelas–kelas BJR tersebut. Harga tandan lebih basis/borong dari kelas yang berbeda dapat saja sama, tergantung dari kondisi setempat. Akan tetapi perlu diperhatikan bahwa biaya Rp/ton TBS dari lebih basis/borong (luar dinas) tidak boleh lebih tinggi dari biaya Rp/ton TBS dalam dinas. Sebagai ketentuan, premi lebih borong maksimum 50 % dari gaji rata–rata.

4. Premi Brondolan Tidak Ada
5. Premi Kepala Mandor, Mandor Panen dan Kerani Panen
a. Premi Kepala Mandor maksimum 2,00 x premi rata–rata pemanen yang dibawah pengawasannya pada bulan bersangkutan.
b. Premi Mandor Buah Maksimum 1,50 x premi rata–rata pemanen yang dibawah pengawasannya pada bulan bersangkutan.
c. Premi Kerani Panen maksimum 1,25 x premi rata–rata pemanen yang dibawah pengawasannya pada bulan bersangkutan dengan ketentuan apabila BJR sesuai dengan hasil penimbangan di lapangan pada semester bersangkutan.

6. Denda–denda atas tindakan–tindakan yang tidak memenuhi peraturan.
a. Denda bagi Karyawan Panen
  • Apabila pemanen tidak mencapai target atau siap borong berarti tidak menjalankan tugas sesuai dengan 7 jam kerja (5 jam kerja pada hari Jum’at), maka diambil tindakan sesuai dengan peraturan karyawan.
  • Panen buah mentah, tidak diterima dan didenda mahal, misalnya Rp 2.500,-per buah mentah dan buah mentah yang sudah dipanen tersebut harus tetap diangkut ke PKS tetapi ikut dalam perhitungan siap borong.
  • Buah masak tidak dipotong didenda cukup mahal misalnya  Rp 1.500,- per tandan.
  • Brondolan tidak dikutip bersih, di denda misalnya Rp100,- per piringan atau Rp 6,- per brondolan.
  • Brondolan dibuang ke gawangan maksimum dapat dikira mangkir.
  • Buah tidak disusun rapi di TPH didenda misalnya Rp 250,- per TPH.
  • Cabang sengkleh, cabang tidak dipotong dan berserak dimana–mana, didenda misalnya Rp 150,- per cabang.
  • Denda–denda lain yang dinilai perlu.
b. Denda bagi Kerani Panen
  • Apabila ada buah mentah yang diterima sebagai buah matang (Buah N) oleh kerani panen, maka 100 % preminya harus dipotong (berarti tidak mendapat premi sama sekali pada hari itu).
  • Apabila BJR timbangan PKS lebih kecil 10,0 % dari timbangan lapangan, maka premi dipotong 50 %.  Hal ini disinyalir ada manipulasi jumlah tandan yang dilaporkan ada penambahan jumlah tandan dengan maksud agar premi pemanen menjadi tinggi yang berdampak pada naiknya nilai premi untuk kerani panen.
  • Apabila BJR timbangan PKS lebih kecil 5,0–10,0 % dari timbangan lapangan, maka premi dipotong 25 %.
  • Apabila BJR timbangan PKS lebih kecil 2,5-5,0 % dari timbangan lapangan,  maka premi dipotong 10 %.
  • Sebagai dasar timbangan BJR setiap bulan, diambil timbangan PKS yang sebenarnya dengan BJR kebun yang terakhir.
c. Denda Mandor Panen
  • Apabila dijumpai buah mentah (Buah A) 3,0-4,0 % dalam mandorannya, maka preminya dipotong 25 %.
  • Apabila dijumpai buah mentah 4,0–5,0 % dalam mandorannya, maka preminya dipotong 50 %.
  • Apabila dijumpai buah mentah ≥ 5,0 %  dalam mandorannya, maka preminya dipotong 100 %.
  • Buah masak tidak dipanen, buah ketinggalan di piringan, cabang berserakan dan lain–lain penilaian oleh Kepala Afdeling, Askep dan Kepala Kebun, maka harus didenda 10,0–15,0 % dari preminya.
  • Denda–denda karyawan dalam pengawasannya harus terkait pada persentase pendapatan rata–rata premi pemanen yang diawasinya.
d. Denda Kepala Mandor
Selain denda yang sudah terkait pada persentase dari premi karyawan yang diawasi, maka perlu diberikan sanksi tambahan yang merupakan denda langsung, misalnya apabila banyak pemanen yang tidak siap borong, banyak pemanen yang mangkir. Sangsi tambahan tersebut akan ditentukan oleh Kepala Afdeling, Asisten Kepala dan Kepala Kebun

Panen dan Pasca Panen Tanaman Sagu

Ciri dan Umur Panen

Panen dapat dilakukan mulai umur 6-7 tahun, atau bila ujung batang mulai membengkak disusul keluarnya selubung bunga dan pelepah daun berwarna putih terutama pada bagian luarnya. Tinggi pohon 10-15 m, diameter 60-70 cm, tebal kulit luar 10 cm, dan tebal batang yang mengandung sagu 50-60 cm. Ciri pohon sagu siap panen pada umumnya dapat dilihat dari perubahan yang terjadi pada daun, duri, pucuk dan batang.

Cara penentuan pohon sagu yang siap panen di Maluku:
  • Tingkat Wela/putus duri, yaitu suatu fase di mana sebagian duri pada pelepah daun telah lenyap. Kematangannya belum sempurna dan kandungan acinya masih rendah, tetapi dalam keadaaan terpaksa pohon ini dapat dipanen.
  • Tingkat Maputih, ditandai dengan menguningnya pelepah daun, duri yang terdapat pada pelepah daun hampir seluruhnya lenyap, kecuali pada bagian pangkal pelepah masih tertinggal sedikit. Daun muda yang terbentuk ukurannya semakin pendek dan kecil. Pada tingkat ini sagu jenis Metroxylon rumphii Martius sudah siap dipanen, karena kandungan acinya sangat tinggi.
  • Tingkat Maputih masa/masa jantung, yaitu fase di mana semua pelepah daun telah menguning dan kuncup bunga mulai muncul. Kandungan acinya telah padat mulai dari pangkal batang sampai ujung batang merupakan fase yang tepat untuk panen sagu Ihur (Metroxylon sylvester Martius).
  • Tingkat Siri buah, merupakan tingkat kematangan terakhir, di mana kuncup bunga sagu telah mekar dan bercabang menyerupai tanduk rusa dan buahnya mulai terbentuk. Fase ini merupakan saat yang paling tepat untuk memanen sagu jenis
Panen dan Pasca Panen Tanaman Sagu
Metroxylon longispium Martius.

Ciri-ciri pohon yang sagu yang siap dipanen menurut masyarakat Irian Jaya adalah:
  • Pelepah daun menjadi lebih pendek.
  • Kuncup bunga mulai tampak dan pucuk pohon mendatar bila dibandingkan dengan pohon sagu yang lebih muda.
  • Batang sagu dilubangi kira-kira 1 m di atas tanah, kemudian diambil empulurnya dan dikunyah serta diperas. Apabila air perasannya keruh berarti kandungan acinya sudah cukup dan pohon siap dipanen.
Cara Panen
  1. Dilakukan pembersihan untuk membuat jalan masuk ke rumpun dan pembersihan batang yang akan dipotong untuk memudahkan penebangan dan pengangkutan hasil tebangan.
  2. Sagu dipotong sedekat mungkin dengan akarnya. Pemotongan menggunakan kampak/mesin pemotong (gergaji mesin).
  3. Batang dibersihkan dari pelepah dan sebagian ujung batangnya karena acinya rendah, sehingga tinggal gelondongan batang sagu sepanjang 6-15 meter. Gelondongan dipotong-potong menjadi 1-2 meter untuk memudahkan pengangkutan. Berat 1 gelondongan adalah  120 kg dengan diameter 45 cm dan tebal kulit 3,1 cm.
Periode Panen

Pemanenan kedua dilakukan dengan jangka waktu  2 tahun.

Prakiraan Produksi

Perkiraan hasil yang paling mendekati kenyataan pada kondisi liar dengan produksi

40-60 batang/ha/tahun dengan jumlah empulur 1 ton/batang, dengan kandungan aci sagu 18,5 prosen, dapat diperkirakan hasil per hektar per tahun adalah 7-11 ton aci sagu kering. Secara teoritis, dari satu batang pohon sagu dapat dihasilkan 100-600 kg aci sagu kering. Rendemen total untuk pengolahan yang ideal adalah 15 prosen.

Pengumpulan
  • Gelondongan yang telah dipotong dapat langsung dibawa ke parit/sumber air terdekat, kemudian langsung ditokok/diekstraksi.
  • Atau gelondongan dialirkan lewat kanal lalu dihalau/dihanyutkan menuju tempat pengolahan.
  • Sagu-sagu yang dihanyutkan ditangkap dengan jala-jala yang diletakkan pada sebuah ban pengangkut barang.
  • Ban tersebut akan membawa gelondongan ke pabrik.
  • Kalau ada jalan darat yang memadai, pengangkutan menggunakan truk atau gerobak.
Pengambilan Aci Sagu

a) Cara Maluku:
  1. Potongan pohon sagu dibelah dua.
  2. Belahan pohon sagu ditokok dengan suatu alat yang disebut "nani". Caranya empulur ditetak-tetak sedikit demi sedikit dari salah satu ujung sampai ke pangkalnya. Empulur dijaga jangan sampai kering.
  3. Hasil tokokan empulur yang disebut "ela", dikumpulkan, kemudian disaring.
  4. Di tempat penyaringan, ela disiram dengan air bersih, maka aci akan keluar bersamaan dengan air siraman, selanjutnya disaring dalam "goti".
  5. Air siraman ela yang diperoleh, diendapkan. Hasil endapan dipisahkan dari air yang sudah mulai jernih, sehingga diperoleh aci sagu basah.
  6. Aci sagu dimasukkan dalam "tumang" atau "tappiri" (suatu wadah dari batang sagu), untuk disimpan atau diproses lebih lanjut.
b) Cara Fabrikasi:

Semua pabrik pengambil empulur mengguankan pemarut silinder yang disambungkan pada motor, sedangkan di Serawak digunakan pemarut Cakera (dari Jerman) yang besar. Setelah diperoleh "ela", lalu diproses menjadi zat tepung seperti pengambilan pati yang dilakukan pabrik tapioka biasa, yaitu dengan menggunakan sistem pemisah zat tepung dari ampas secara sentrifugal. Kapasitas produksi pabrik tersebut berkisar antara 1-10 pokok/hari.

Pemutihan Aci Sagu
  • Dibuat larutan kaporit 3 prosen, caranya 300 gram kaorit dilarutkan dalam 10 liter air bersih.
  • Aci sagu dimasukkan dalam larutan kaporit dengan perbandingan 1 bagian tepung
Bagian larutan kaporit.
  1. Larutan diaduk sampai homogen, kira-kira selama 1 menit, kemudian diendapkan dan didiamkan selama 1/2 jam.
  2. Cairan bening yang terdapat pada bagian atas tepung dikeluarkan dan ditampung pada ember lain, cairan ini masih dapat digunakan untuk mencuci 2-3 kali lagi.
  3. Netralkan aci sagu tersebut dengan memasukkan air bersih dalam aci lalu diaduk sampai rata kira-kira selama 1 menit.
  4. Sebelum larutan aci dalam ember tenang, larutan itu segera disaring lalu diendapkan. Cairan bagian atas dibuang kemudian ditambah air lagi, diaduk, diendapkan, cairan bening dibuang. Pekerjaan ini diulang 3-4 kali sampai bau kaporit hilang.
  5. Aci sagu yang sudah tampak putih dan tidak berbau kaporit segera dikeringkan pada para-para yang dialasi plastik, sampai kering.
Sekian dari kami, Semoga bermanfaat.
Back To Top