Penyakit Tanaman Pertanian

CARA MENDONGKARAK PRODUKSI GABAH KERING


Semestinya, kenaikan harga beras yang berulang setiap tahun dijadikan peluang untuk menggenjot produksi. Tentu, bagi sentra-sentra produksi padi seperti di Jawa, upaya meningkatkan produksi hanya bisa ditempuh dengan intensifikasi. Akibat penyempitan lahan di Jawa, Sumatera, dan Bali, upaya untuk meningkatkan produksi padi hanya dapat dilakukan dengan intensifikasi. Salah satu trik yang bisa diterapkan adalah menambahkan pupuk SUPER NASA GRANULE.

Aplikasi pupuk   SUPER NASA GRANULE  sangat efektif dan efisien, karena hanya dibutuhkan 50 kg per hektar. Selain mengandung unsur hara makro dan mikro lengkap SUPER NASA GRANULE  juga diperkaya dengan ZPT yang berfungsi sebagai perangsang akar, batang dan buah. Penggunaan SUPER NASA GRANULE  dapat mengurangi kebutuhan pupuk makro UREA, TSP, KCL maksimal 50% dari total penggunaan.

Sebelum menambahkan pupuk mikro, produksi padi Ciherang yang ditanam Bapak Sakti di Madiun, pada musim hujan rata-rata hanya 8 ton GKP per ha. Sedangkan saat musim kemarau rata-rata 8.7 ton. Sebaliknya, setelah mengaplikasikan pupuk SUPER NASA GRANULE, hasil panen musim hujan meningkat menjadi 9-9,5 ton per ha, atau naik hingga 19%. Demikian pula sewaktu musim kemarau, meningkat menjadi rata-rata 12 ton GKP per ha (20%).

Dengan menambahkan 50 kg pupuk SUPER NASA GRANULE, Bapak Sakti mengeluarkan tambahan biaya produksi Rp.950.000 per ha. Penggunaan pupuk makro UREA, TSP & KCL dikurangi sampai 50%, jika semula beliau menggunakan makro NPK Phonska sebanyak 700 kg, dengan menggunakan pupuk SUPER NASA GRANULE beliau hanya memerlukan 350 kg pupuk makro, ini berarti pengurangan biaya pupuk makro sebesar Rp. 840.000, ini berarti ada penambahan modal sekitar Rp. 110.000. Tambahan modal itu nyaris tak berarti bila dibandingkan hasil panennya.
Natural Nusantara: Menanam Padi di Lahan Pasir

Tak dapat dipungkiri, pemahaman sebagian besar petani terhadap konsep pemupukan lengkap berimbang hingga kini masih rendah. Buktinya, sampai sekarang mereka lebih banyak mengandalkan pupuk Urea, SP-18, KCl maupun ZA. Padahal pupuk itu pun hanya dapat memenuhi sebagian unsur hara makro, seperti Nitrogen (N), Fosfor (P), Kalium (K), atau Sulfur (S).

Menurut Prof. Dr. Iswandi Anas, Pakar Bioteknologi Tanah di Faperta IPB, untuk tumbuh dengan baik semua tanaman termasuk padi memerlukan paling tidak 16 unsur hara esensial. Terbagi atas unsur hara makro (C, H, O, N, P, K, Ca, Mg, dan S) serta unsur mikro (Fe, Mn, Mo, B, Cu, Zn, dan Cl). “Pupuk mikro hanya dibutuhkan dalam jumlah sedikit. Kalau takaran pupuk makro butuh ratusan kg per ha, pupuk mikro hanya 0,5-10 kg,” jelasnya.

Hal senada diutarakan Dr. Ir. Atang Sutandi, M.Si., Spesialis Kesuburan Tanah, Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, juga di IPB. “Walaupun dibutuhkan sedikit, keberadaan pupuk mikro sangat penting,” ujarnya. Bila tidak diperhatikan, lanjut dia, tanaman akan menunjukkan gejala defisiensi (kekurangan). Kalau sudah terjadi defisiensi, walaupun diberi perlakuan pupuk mikro, tingkat pertumbuhan dan produksi tanaman tidak akan bisa pulih.
Bulir padi dengan pupuk SUPER NASA GRANULE

“Meskipun pupuk mikro hanya diperlukan dalam jumlah yang sedikit, ia menentukan produksi. Perlu diingat, yang paling menentukan produksi adalah unsur hara yang berada dalam keadaan paling minimal,” ungkap Iswandi, yang juga Dewan Pupuk Nasional, itu.

Perlu Edukasi

Di pasaran, sudah banyak beredar pupuk mikro kemasan. Ada kemasan yang hanya berisi beberapa unsur mikro, ada pula yang digabung dengan unsur makro, ditambah zat pengatur tumbuh maupun mikroba.

Sayangnya kenyataan di lapangan, petani masih banyak yang enggan untuk menggunakannya. Hal ini disebabkan kurangnya pengetahuan petani mengenai jumlah dan jenis unsur hara yang dibutuhkan tanaman. Ditambah lagi kurangnya edukasi dari pemerintah tentang manfaat hara mikro bagi pertumbuhan dan perkembangan padi.

“Sejak revolusi hijau, pemerintah memprogramkan peningkatan produksi padi melalui pemanfaatan pupuk makro, terutama yang berbasis N. Oleh sebab itu, sampai sekarang masih 60% petani menggunakan pupuk makro berbasis N,” imbuh Rahmat S. Sargani, produsen pupuk, di Bandung.

Tidak mengherankan bila aplikasi pupuk makro tidak diikuti peningkatan produksi. Sebab, untuk pertumbuhan dan perkembangannya, tanaman tidak memperoleh nutrisi yang lengkap. Jangankan memenuhi unsur mikro, pemberian hara makronya saja tidak lengkap. “Kalau tanaman sudah menampilkan gejala defisinsi hara mikro, pengurangan produksi bisa lebih dari 50%, walaupun kita sudah mengaplikasikan pupuk makro,” tandas Atang. “Pupuk mikro masih PR bagi kita karena baru menyelesaikan N, P, K, Ca, dan Mg,” imbuh Catur.

Saatnya Dimanfaatkan

Tampaknya penggunaan pupuk mikro wajib dilakukan. Sebab, menurut Iswandi, tanah darat maupun sawah di Indonesia hampir semuanya sudah sakit. “Sekitar 73% tanah pertanian kita kadar bahan organiknya sudah kurang dari 1%. Padahal, bahan organik ini ibarat nyawa bagi tanah,” tandasnya.

“Umumnya, lahan yang terus-menerus ditanami tanpa penambahan unsur mikro pasti akan tereksploitasi. Sebab, unsur mikro terus terpanen dari tanah. Oleh karena itu, pupuk mikro wajib kita tambahkan,” papar Catur.

Sebagai gambaran, setiap 1 ton jerami padi mengandung 9 kg N, 2 kg  P, 30 kg Silikat (Si), 6 kg Ca, dan 2 kg Mg. Bila jerami itu tidak dikembalikan ke sawah, tentu unsur hara mikro Si kian terkuras. Padahal Si, menurut Iswandi, sangat dibutuhkan oleh padi. Hara Si diperlukan untuk menjadikan tanaman membentuk daun yang tegak sehingga daun efektif melakukan fotosintesis.

Menurut Atang, daerah yang kekurangan unsur mikro, biasanya dijumpai pada lahan asam dan tanah basa. Seperti tanah mineral berbahan induk masam atau berbahan organik rendah, tanah berpasir putih (kuarsa), tanah berdrainase buruk, dan lahan yang terus-menurus dipupuk fosfat. “Sawah di Jawa cenderung sudah jenuh fosfat. Kalau sudah jenuh fosfat, semua unsur hara diendapkan menjadi garam fosfat yang tidak bisa diserap tanaman,” terang Iswandi. Dari 100 kg pupuk fosfat (TSP/SP-18) yang kita berikan, lanjut dia, hanya 15%—20% yang diserap tanaman. Sisanya yang 85% mengendap. “Bukan hanya mengendap sendirian tetapi juga mengendapkan unsur hara mikro,” urainya.

Beberapa wilayah di Indonesia yang miskin unsur mikro, terutama Fe, Zn, dan Mn, adalah Sulawesi, Maluku, Nusatenggara Barat, dan Nusatenggara Timur. “Memang, ada daerah tertentu yang salah satu kandungan unsur mikronya tinggi, tapi daerah lain malah sebaliknya. Oleh sebab itu, sebelum merekomendasikan penggunaan pupuk mikro, kita lihat dulu kandungan unsur di dalam tanahnya. Lalu, melihat tanaman apa yang diusahakan,” papar Benny Hermawan MM., Direktur Utama PT Andalan Chemist Indonesia, produsen pupuk di Jakarta.

Menurut perhitungan Catur, paling tidak empat unsur mikro yang harus diutamakan, yaitu Boron (B), Mangan (Mn), Besi (Fe), dan Tembaga (Cu). Sedangkan menurut Atang, dari 7 unsur mikro itu, yang paling banyak dibutuhkan tanaman berturut-turut adalah Fe, Mn, Cu, dan Zn (Seng). Sementara Molibdenum (Mo), paling sedikit diperlukan tanaman.

Sebenarnya, menurut Iswandi, untuk mengembalikan kesuburan tanah bisa dilakukan dengan pemupukan organik, seperti pupuk kandang maupun kompos. Kedua pupuk organik itu akan mengekstraksi semua unsur hara (makro dan mikro) yang terikat dalam partikel tanah sehingga bisa diserap akar tanaman. Sayangnya, kandungan unsur mikro dalam pupuk organik ini rendah. Karena itu, pada lahan tertentu, penambahan hara mikro tetap diperlukan. “Kalau pemanfaatan pupuk organik itu dipertahankan, penurunan unsur hara mikro tidak akan drastis,” urainya.

Kesimpulan

Penggunaan pupuk mikro mutlak diperlukan untuk pemenuhan kebutuhan hara pada tanaman, penggunaan pupuk organik juga diperlukan untuk memperbaiki kualitas tanah dan melarutkan residu kimia yang ada pada tanah, semua kebutuhan tanaman ada pada pupuk SUPER NASA GRANULE, dengan dosis rendah mampu meningkatkan produktifitas tanaman.

VIDEO TUTORIAL INI MUNGKIN BISA SEBAGAI REFERENSI ANDA, SEHINGGA HASIL PRODUKSI MENINGKAT TAJAM



Contact Person : BAMBANG HENDRIYANTO
Alamat :Jl. Ringroad Barat no 72, desa salakan trihanggo gamping  Sleman       Jogjakarta 
HP ;087839383561 dan 081326912561 
(SMS/Telp)Email : bambanghendriyanto1@gmail.com
Facebook : bambang alfath

Cara pemesanan :

1. Jika menjadi konsumen, maka akan digunakan harga sesuai dengan Price List untuk konsumen.

2. Untuk pemesanan dibawah 2 juta free ongkir wilayah jawa, untuk wilayah luar jawa akan dikenakan biaya pengiriman barang yang akan diperhitungkan sesuai dengan pemesanan.


3. Untuk pemesanan diatas 3 juta untuk wilayah luar jawa free ongkir, akan diberikan GRATIS biaya pengiriman sampai tujuan

Teknis Budidaya Padi Teknologi NASA

TEKNIS BUDIDAYA PADI SAWAH ORGANIK NASA


Sebagai bahan pangan pokok di Indonesia, beras mutlak dibutuhkan dalam jumlah yang besar dan berkelanjutan. Dan alangkah baiknya kalau kita sebagai negara agraria, mampu menghasilkan sendiri tanpa perlu mengekspor dari negara lain. Untuk itu, PT Natural Nusantara sebagai perusahaan berbasis agro organik, berusaha memberikan pedoman Teknis Budidaya Padi yang praktis untuk para petani Indonesia agar bisa meningkatkan hasil panen tanpa mengorbankan kelestarian lingkungan.

Teknis Budidaya Padi Teknologi NASA

Kali ini akan menyajikan cara budidaya tanaman padi secara ringkas dengan gambar dengan harapan bisa lebih enak untuk diikuti para petani.

Persiapan Benih

Teknis Budidaya Padi Nasa 01
  1. Kebutuhan benih 20-40 kg/ha
  2. Benih padi direndam dalam air selama 6-12 jam dengan larutan POC NASA dosis 2-5 cc/liter
  3. Tiriskan dan peram selama 1-2 malam hingga benih berkecambah

Pembibitan & Olah Lahan

  1. Siapkan lahan persemaian seluas 20-40 m2 untuk setiap 1 kg benih.
    Persemaian diairi dengan berangsur sampai 3-5 cm.
    Teknis Budidaya Padi Nasa 02
    Semprot persemaian dengan melihat tabel berikut:
    POC NASA + HormonikNatural BVRPESTONA
    4 : 1 tutup/tangki1 sdm/tangki7 tutup/tangki
    umur 2 mingguumur 2 mingguumur 3 minggu
  2. Olah lahan tanam:
    Teknis Budidaya Padi Nasa 03
    Lakukan pengolahan lahan sebelum tanam dengan aplikasi SUPERNASA dengan dosis 3-6 kg/ha ditambah dengan Dolomit 100-300 kg/ha, TSP 100-200 kg/ha, serta UREA 50-100 kg/ha.
    Catatan:
    Dolomit dan TSP idealnya kurang lebih 2 minggu sebelum tanam
    SUPERNASA dan UREA sebaiknya digunakan pada 0 HST (menjelang atau saat tanam)

Pindah Tanam dan Jarak Tanam Padi

Lakukan pemindahan tanaman (bibit saat umur 18-25 hari setelah semai (hss) yaitu saat bibit memiliki 5-7 daun atau 3-5 anakan.
Jarak tanam dapat berupa jarak tanam tegel 25 cm x 25 cm, atau jarak tanam legowo 40 cm x 20 cm x 10 cm, yaitu mengilangkan satu baris setiap menanam dua baris, serta dalam baris dipadatkan.

Pemeliharaan Tanaman Padi

Pemupukan I umur 15-20 setelah tanam: Urea 100 kg/ha + NPK 100 kg/ha
Pemupukan II umur 40-45 setelah tanam: Urea 50 hg/ha + NPK 200 kg/ha + Power Nutrition 3-6 kg/ha
Penyemprotan POC NASA : 4-5 tutup + Hormonik  1-2 tutup per tangki pada umur 15, 30, 45 hari setelah tanam
Saat penyemprotan dapat ditambah dengan PESTONA atau BVR
Teknis Budidaya Padi Nasa 04a
Jaga ketinggian air di sawah setinggi kurang lebih 3 cm selama 3-5 hari, untuk mempercepat pertumbuhan bibit dan menghambat gulma
Teknis Budidaya Padi Nasa 04b
Tambah penggenangan air sampai 5 cm selama masa pembungaan dan pengisian bulir. Jika jumlah air terbatas, lakukan penggenangan dan pengeringan bergantian
Secara bertahap, kurangi penggenangan pada usia 2 minggu sebelum panen, sampai lahan benar-benar kering saat panen.
Itulah pedoman praktis teknis budidaya padi teknologi organik Nasa yang bisa kami sampaikan, semoga bermanfaat !

VIDEO TUTORIAL INI MUNGKIN BISA SEBAGAI REFERENSI KEBUN  ANDA, SEHINGGA HASIL PRODUKSI  MENINGKAT TAJAM



Contact Person : BAMBANG HENDRIYANTO
Alamat :Jl. Ringroad Barat no 72, desa salakan trihanggo gamping  Sleman       Jogjakarta 
HP ;087839383561 dan 081326912561 
(SMS/Telp)Email : bambanghendriyanto1@gmail.com
Facebook : bambang alfath

Cara pemesanan :

1. Jika menjadi konsumen, maka akan digunakan harga sesuai dengan Price List untuk konsumen.

2. Untuk pemesanan dibawah 2 juta free ongkir wilayah jawa, untuk wilayah luar jawa akan dikenakan biaya pengiriman barang yang akan diperhitungkan sesuai dengan pemesanan.

3. Untuk pemesanan diatas 3 juta untuk wilayah luar jawa free ongkir, akan diberikan GRATIS biaya pengiriman sampai tujuan

POLA TANAM TANAMAN PADI SISTEM JAJAR LEGOWO

Dalam upaya pencapaian target program Peningkatan Produksi Beras Nasional (P2BN) pemerintah dalam hal ini Departemen Pertanian melalui Badan Pengembangan dan Penelitian telah banyak mengeluarkan rekomendasi untuk diaplikasikan oleh petani. Salah satu rekomendasi ini adalah penerapan sistem tanam yang benar dan baik melalui pengaturan jarak tanam yang dikenal dengan sistem tanam jajar legowo.

Dalam melaksanakan usaha tanam padi ada bebarapa hal yang menjadi tantangan salah satunya yaitu bagaimana upaya ataupun cara yang harus dilakukan untuk mendapatkan hasil produksi padi yang tinggi. Namun untuk mewujudkan upaya tersebut masih terkendala karena jika diperhatikan masih banyak petani yang belum mau melaksanakan anjuran sepenuhnya. Sebagai contoh dalam hal sistem tanam masih banyak petani yang bertanam tanpa jarak tanam yang beraturan. Padahal dengan pengaturan jarak tanam yang tepat dan teknik yang benar dalam hal ini adalah sistem tanam jajar legowo maka akan diperoleh efisiensi dan efektifitas pertanaman serta memudahkan tindakan kelanjutannya.

Istilah jajar legowo diambil dari bahasa jawa yang secara harfiah tersusun dari kata “lego (lega)” dan “dowo (panjang)” yang secara kebetulan sama dengan nama pejabat yang memperkenalkan cara tanam ini. Sistem tanam jajar legowo diperkenalkan pertama kali oleh seorang pejabat Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Banjar Negara Provinsi Jawa Tengah yang bernama Bapak Legowo yang kemudian ditindak lanjuti oleh Departemen Pertanian melalui pengkajian dan penelitian sehingga menjadi suatu rekomendasi atau anjuran untuk diterapkan oleh petani dalam rangka meningkatkan produktivitas tanaman padi.


PENGERTIAN SISTEM TANAM JAJAR LEGOWO


Prinsip dari sistem tanam jajar legowo adalah meningkatkan populasi tanaman dengan mengatur jarak tanam sehingga pertanaman akan memiliki barisan tanaman yang diselingi oleh barisan kosong dimana jarak tanam pada barisan pinggir setengah kali jarak tanam antar barisan. Sistem tanam jajar legowo merupakan salah satu rekomendasi yang terdapat dalam paket anjuran Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT).

Sistem tanam jajar legowo juga merupakan suatu upaya memanipulasi lokasi pertanaman sehingga pertanaman akan memiliki jumlah tanaman pingir yang lebih banyak dengan adanya barisan kosong. Seperti diketahui bahwa tanaman padi yang berada dipinggir memiliki pertumbuhan dan perkembangan yang lebih baik dibanding tanaman padi yang berada di barisan tengah sehingga memberikan hasil produksi dan kualitas gabah yang lebih tinggi. Hal ini disebabkan karena tanaman yang berada dipinggir akan memperoleh intensitas sinar matahari yang lebih banyak (efek tanaman pinggir). Adapun manfaat dan tujuan dari penerapan sistem tanam jajar legowo adalah sebagai berikut :

  1. Menambah jumlah populasi tanaman padi sekitar 30 % yang diharapkan akan meningkatkan produksi baik secara makro maupun mikro. 
  2. Dengan adanya baris kosong akan mempermudah pelaksanaan pemeliharaan, pemupukan dan pengendalian hama penyakit tanaman yaitu dilakukan melalui barisan kosong/lorong.
  3. Mengurangi kemungkinan serangan hama dan penyakit terutama hama tikus. Pada lahan yang relatif terbuka hama tikus kurang suka tinggal di dalamnya dan dengan lahan yang relatif terbuka kelembaban juga akan menjadi lebih rendah sehingga perkembangan penyakit dapat ditekan.
  4. Menghemat pupuk karena yang dipupuk hanya bagian tanaman dalam barisan.
  5. Dengan menerapkan sistem tanam jajar legowo akan menambah kemungkinan barisan tanaman untuk mengalami efek tanaman pinggir dengan memanfaatkan sinar matahari secara optimal bagi tanaman yang berada pada barisan pinggir. Semakin banyak intensitas sinar matahari yang mengenai tanaman maka proses metabolisme terutama fotosintesis tanaman yang terjadi di daun akan semakin tinggi sehingga akan didapatkan kualitas tanaman yang baik ditinjau dari segi pertumbuhan dan hasil.

PENERAPAN SISTEM TANAM JAJAR LEGOWO

Bersumber dari Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Banten bahwa modifikasi jarak tanam pada sistem tanam jajar legowo bisa dilakukan dengan melihat berbagai pertimbangan. 

Secara umum jarak tanam yang dipakai adalah 20 X 20 cm dan bisa dimodifikasi menjadi 22,5 X 22,55 cm atau 25 X 25 cm sesuai pertimbangan varietas padi yang akan ditanam atau tingkat kesuburan tanahnya. 
Jarak tanam untuk padi yang sejenis dengan varietas IR-64 seperti varietas ciherang cukup dengan jarak tanam 20 X 20 cm sedangkan untuk varietas padi yang memiliki penampilan lebat dan tinggi perlu diberi jarak tanam yang lebih lebar misalnya 22,5 sampai 25 cm. 
Demikian juga pada tanah yang kurang subur cukup digunakan jarak tanam 20 X 20 cm sedangkan pada tanah yang lebih subur perlu diberi jarak yang lebih lebar misal 22,5 cm atau pada tanah yang sangat subur jarak tanamnya bisa 25 X 25 cm. Pemilihan ukuran jarak tanam ini bertujuan agar mendapatkan hasil yang optimal.

Ada beberapa tipe cara tanam sistem jajar legowo yang secara umum dapat dilakukan yaitu ; tipe legowo (2 : 1), (3 : 1), (4 : 1), (5 : 1), (6 : 1) dan tipe lainnya yang sudah ada serta telah diaplikasikan oleh sebagian masyarakat petani di Indonesia. 

Namun berdasarkan penelitian yang dilakukan di Balai Pengkajian Teknologi Pertanian diketahui jika tipe sistem tanam jajar legowo terbaik dalam memberikan hasil produksi gabah tinggi adalah tipe jajar legowo (4:1) sedangkan dari tipe jajar legowo (2 : 1) dapat diterapkan untuk mendapatkan bulir gabah berkualitas benih.

Jajar legowo (2 : 1) adalah cara tanam padi dimana setiap dua baris tanaman diselingi oleh satu barisan kosong yang memiliki jarak dua kali dari jarak tanaman antar baris sedangkan jarak tanaman dalam barisan adalah setengah kali jarak tanam antar barisan. Dengan demikian jarak tanam pada sistem jajar legowo (2 : 1) adalah 20 cm (antar barisan) X 10 cm (barisan pinggir) X 40 cm (barisan kosong).

Dengan sistem jajar legowo (2 : 1) seluruh tanaman dikondisikan seolah-olah menjadi tanaman pinggir. Penerapan sistem jajar legowo (2 : 1) dapat meningkatkan produksi padi dengan gabah kualitas benih dimana sistem jajar legowo seperti ini sering dijumpai pada pertanaman untuk tujuan penangkaran atau produksi benih. Untuk lebih jelasnya tentang cara tanam jajar legowo (2 : 1) dapat dilihat melalui gambar di bawah ini.

Cara Menanam Padi Sistem Jajar Legowo
sistem tanam jajar legowo (2 : 1)
Jajar legowo (3 : 1) adalah cara tanam padi dimana setiap tiga baris tanaman diselingi oleh satu barisan kosong yang memiliki jarak dua kali dari jarak tanaman antar barisan. Modifikasi tanaman pinggir dilakukan pada baris tanaman ke-1 dan ke-3 yang diharapkan dapat diperoleh hasil tinggi dari adanya efek tanaman pinggir. Prinsip penambahan jumlah populasi tanaman dilakukan dengan cara menanam pada setiap barisan pinggir (baris ke-1 dan ke-3) dengan jarak tanam setengah dari jarak tanam antar barisan.

Dengan demikian jarak tanam pada sistem jajar legowo (3 : 1) adalah 20 cm (antar barisan dan pada barisan tengah) X 10 cm (barisan pinggir) X 40 cm (barisan kosong) yang lebih jelasnya dapat dilihat melalui gambar di bawah ini.

Cara Menanam Padi Sistem Jajar Legowo
sistem tanam jajar legowo (3 : 1)
Jajar legowo (4 : 1) adalah cara tanam padi dimana setiap empat baris tanaman diselingi oleh satu barisan kosong yang memiliki jarak dua kali dari jarak tanaman antar barisan. Dengan sistem legowo seperti ini maka setiap baris tanaman ke-1 dan ke-4 akan termodifikasi menjadi tanaman pinggir yang diharapkan dapat diperoleh hasil tinggi dari adanya efek tanaman pinggir. Prinsip penambahan jumlah populasi tanaman dilakukan dengan cara menanam pada setiap barisan pinggir (baris ke-1 dan ke-4) dengan jarak tanam setengah dari jarak tanam antar barisan.

Dengan demikian jarak tanam pada sistem jajar legowo (4 : 1) adalah 20 cm (antar barisan dan pada barisan tengah) X 10 cm (barisan pinggir) X 40 cm (barisan kosong) yang lebih jelasnya dapat dilihat melalui gambar di bawah ini.


Cara Menanam Padi Sistem Jajar Legowo
sistem tanam jajar legowo (4 : 1)
Seperti telah diuraikan di atas bahwa prinsip dari sistem tanam jajar legowo adalah meningkatkan jumlah populasi tanaman dengan pengaturan jarak tanam. Adapun jumlah peningkatan populasi tanaman dengan penerapan sistem tanam jajar legowo ini dapat kita ketahui dengan rumus : 100 % X 1 / (1 + jumlah legowo).

Dengan demikian untuk masing-masing tipe sistem tanam jajar legowo dapat kita hitung penambahan/peningkatan populasinya sebagai berikut ;

Jajar legowo (2 : 1) peningkatan populasinya adalah 100 % X 1(1 + 2) = 30 %
Jajar legowo (3 : 1) peningkatan populasinya adalah 100 % X 1 (1 + 3) = 25 %
Jajar legowo (4 : 1) peningkatan populasinya adalah 100 % X 1 (1 + 4) = 20 %
Jajar legowo (5 : 1) peningkatan populasinya adalah 100 % X 1 (1 + 5) = 16,6 %
Jajar legowo (6 : 1) peningkatan populasinya adalah 100 % X 1 (1 + 6) = 14,29 %

Tipe sistem tanam jajar legowo (4 : 1) dipilih sebagai anjuran kepada petani untuk diterapkan dalam rangka peningkatan produksi padi karena berdasarkan hasil penilitian yang telah dilakukan dengan melihat serta mempertimbangkan tingkat efisiensi dan efektifitas biaya produksi dalam penggunaan pupuk dan benih serta pengaruhnya terhadap hasil produksi tanaman padi.

Sistem tanam jajar legowo memang telah terbukti dapat meningkatkan produksi padi secara signifikan meskipun masih terdapat beberapa hal yang mungkin lebih tepat disebut sebagai “konsekuensi untuk mendapatkan hasil produksi yang lebih tinggi” dibanding disebut sebagai “kelemahan atau kekurangan” dari sistem tanam jajar legowo. 

Beberapa hal ini diantaranya adalah ;
  1. Sistem tanam jajar legowo akan membutuhkan tenaga dan waktu tanam yang lebih banyak. 
  2. Sistem tanam jajar legowo juga akan membutuhkan benih dan bibit lebih banyak karena adanya penambahan populasi.
  3. Pada baris kosong jajar legowo biasanya akan ditumbuhi lebih banyak rumput/gulma.
  4. Sistem tanam jajar legowo yang diterapkan pada lahan yang kurang subur akan meningkatkan jumlah penggunaan pupuk tetapi masih dalam tingkat signifikasi yang rendah.
  5. Dengan membutuhkan waktu, tenaga dan kebutuhan benih yang lebih banyak maka membutuhkan biaya yang lebih banyak juga dibandingkan dengan budi daya tanpa menggunakan sistem tanam jajar legowo.
Dengan budidaya padi sesuai rekomendasi atau anjuran yang tepat dalam hal ini pengelolaan tanaman terpadu (PTT) maka semua hal diatas dapat tertutupi dari hasil produksi yang didapatkan sehingga ditinjau dari faktor penambahan tenaga kerja dan biaya produksi tidak akan berpengaruh dan tetap lebih menguntungkan dibandingkan tanpa menerapkan sistem tanam jajar legowo.

Sebagai tambahan bahwa penerapan sistem tanam jajar legowo akan memberikan hasil maksimal dengan memperhatikan arah barisan tanaman dan arah datangnya sinar matahari. Lajur barisan tanaman dibuat menghadap arah matahari terbit agar seluruh barisan tanaman pinggir dapat memperoleh intensitas sinar matahari yang optimum dengan demikian tidak ada barisan tanaman terutama tanaman pinggir yang terhalangi oleh tanaman lain dalam mendapatkan sinar matahari.
Back To Top