Penyakit Tanaman Pertanian

Hama dan Penyakit Tanaman Pepaya

Hama dan penyakit merupakan musuh utama dari tanaman buidaya kita, pada tanaman pepaya terdapat beberapa hama dan penyakit yang mengganggu dan dapat menyebabkan kegagalan dalam budidaya tanaman pepaya, pada kesempatan ini kita akan mengulas beberapa hama dan penyakit penting pada tanaman pepaya.

HAMA TANAMAN PEPAYA.

Tungau (Tetranychus spp) 

Tungau ini menyerang daun, dan akan menjadi hebat serta merajalela disaat musim kemarau. Terlebih-lebih lagi kalau terjadi kemarau panjang. Kerusakan ini akan terlihal paila daun antara jari-jari daun yang mengering. 

Pemberantasannya : 

Kalau secara tradisional, maka kita taburkan saja tepung belerang pada pagi hari setelah ada embun. Penaburan tepung belerang ini diberikan dibawah telapak daun. Bila kita akan memakai obat-obatan (insektisida) maka dapat pula diberi­kan demicron, lindani', orthane atau filidol untuk usaha pemberantasannya. Obat-obat ini bisa kita beli di toko-toko obat-obatan untuk pertanian atau bisa juga kita membelinya di BUUD. 


Kutu Pseudaulacaspis Pentagona 

Kutu ini akan tampak pada batang pepaya, dan bergerombol hingga akan kelihatan banyak sekali. Kalau dilihat sepintas lalu saja berupa perisai yang berwarna putih dan abu-abu seperti kulit batang pepaya itu sendiri. Sedangkan yang berwarna putih itu adalah kutu-kutu yang berjenis kelamin jantan dan yang abu-abu merupakan kutu yang berjenis ke­lamin betina. 

Perisai kutu ini sering pula tertutup oleh kulit bagian atas dari batang pepaya yang tipis, sehingga tidak mudah diketahui bila belum dikenal 

Pembasmiannya: 

Pemberantasannya memang dapat dilakukan dengan mempergunakan insektisida seperti pemberantasan Tungau. 

Keong (Achatina Fulica) 

Sebenarnya keong ini merupakan hama dari setiap kebun yang tidak dipelihara kebersihannya. Serangan keong yang secara serentak ini akan dapat merusak kulit batang bagian atas dekat buah ataupun bunga. 

Pemberantasannya: 
  • Dengan cara mengumpulkan semua keong-keong tersebut dan membunuhnya.
  • Kalau saja kita mempunyai ternak bebek, maka keong tersebut kita manfaatkan untuk makanan bebek. Selain keong akan terbasmi habis dimakan bebek, maka bebek itupun akan bertelur semakin banyak.
  • Keong yang masih berada dibawah biasanya akan bersembunyi dibawah mulch. Akan tetapi pada sore harinya terutama sekali dimusim penghujan akan keluar dan mu­dah kita kumpulkan.

Kelelawar dan Kutilang 

Dua jenis burung ini memang sangat senang dengan papaya, maka tidak ada cara-cara pembasmiannya untuk kedua jenis perusak ini. Hanya kalau melihat mereka kita halau saja. Namun biasanya kelelawar ini bila makan dan menyerang selalu malam hari.

5. Manusia Jahil

Menghadapi hama yang satu ini memang sangat memusingkan, sebab tak jarang manusia pencuri ini selalu berkeliaran dan mengambil buah yang telah masak untuk dimakan sendiri ataupun bahkan dijualnya. 

Pemberantasannya:

Menghadapi tikus atau kelelawar kepala hitam ini bisa dikatakan hal yang paling sulit dibasmi, sebaiknya memang pohon pepaya yang telah mulai masak di kebun itu diberi penjagaan. Terutama selama malam hari. Sebab memang namanya maling, biasanya juga beroperasi pada malam hari. 

Untuk memudahkan mencari pepaya curian, maka sebaiknya memang buah pepaya yang telah besar-besar dan hampir masak itu diberi tanda khusus dan rahasia yang hanya diketahui oleh pemiliknya saja. Hingga tahu kalau pepaya yang dijual dipasar itu adalah pepaya curian dari kebun kita. Walaupun untuk itu kita juga tak bisa berbuat banyak. 

Photo by jitunews.com

PENYAKIT TANAMAN PEPAYA.

Penyakit pepaya ini sebenarnya juga banyak, akan tetapi sebagian besar tidak membahayakan kehidupan dari pohon tersebut, maka kita juga akan menguraikan bagian-bagian yang terpenting saja. 

Jamur Pylhium Sp 

Penyakit ini menyerang pada leher akar ataupun bagian akar. Akibat dari serangan ini maka akar pepaya akan dapat membusuk. Biasanya biang keladi dari datangnya penyakit ini adalah kurang baiknya dari pembuangan air hingga ba­nyak air yang menggenangi akar.

Pemberantasannya : 

Penyakit ini tidak ada jalan lain untuk memberantasnya, kecuali dengan jalan memperbaiki got-got dan pembuangan airnya yang berada di dalam kebun itu sendiri. Kalau sudah ada gotnya maka got itu perlu diperdalam. 

Bakteri Papayae 

Penyakit ini menyerang pada daun pepaya, hingga kelihatan mengering dan dimulai dari pinggir daunnya. Terutama daun yang masih muda. Penyakit ini sudah berjangkit di ke­bun pepaya yang berudara lembab.

Pemberantasannya: 

Beri kesempatan matahari masuk dan bersinar langsung, hingga keadaan kebun tidak menjadi lembab lagi 

Virus 

Penyakit ini menyerang daun hingga daun itu sendiri menjadi keriting, berbintik-bintik dengan warna kuning. Daun­nya kelihatan cengkong dan tangkainya melayu hampir terkulai kebawah. Bila hal ini dibiarkan maka seluruh pohon akan mati. 

Adapun virus ini dipindah pindahkan dari satu pohon kepohon lainnya oleh kutu-kutu daun yang sering dikenal dengan nama kutu Aphis.

Pemberantasannya: 
  • Untuk pemberantasan penyakit ini memang belum diketahui secara langsung, akan tetapi ada usaha pencegahan : 
  • Basmi pohon dengan segera yang telah terserang virus ini.
  • Basmi kutu-kutu Aphis yang kelihatan pada daun-daun pepaya, dengan mempergunakan insektisida.
Akan tetapi penyakit ini di Indonesia hampir dikatakan tidak ada, namun untuk Trinidad penyakit ini benar-benar sangat meraja lela, hingga banyak membunuh pohon-pohon pepaya yang sedang berbuah maupun yang sedang berkembang. Sekian dan terimakasih. (Sumber : http://tutorialbudidaya.blogspot.com/)

Hama dan Penyakit Pada Tanaman Jeruk

Buah jeruk memiliki hama dan penyakit yang membuat kurang berhasilnya dalam budidaya tanaman jeruk, pada kesempatan ini kita akan membahas tentang hama dan penyakit pada tanaman jeruk, seilahkan disimak beberapa hama dan enyakit yang sering menyerang tanaman jeruk.

Hama Tanaman Jeruk

Kutu loncat (Diaphorina citri.)
  • Bagian yg diserang adalah tangkai, kuncup daun, tunas, daun muda.
  • Gejala: tunas keriting, tanaman mati.
  • Pengendalian: menggunakan insektisida bahan aktif dimethoate (Roxion 40 EC, Rogor 40 EC), Monocrotophos (Azodrin 60 WSC) dan endosulfan (Thiodan 3G, 35 EC dan Dekasulfan 350 EC). Penyemprotan dilakukan menjelang dan saat bertunas, Selain itu buang bagian yg terserang.
Kutu daun (Toxoptera citridus aurantii, Aphis gossypii.)
  • Bagian yg diserang adalah tunas muda dan bunga.
  • Gejala: daun menggulung dan membekas sampai daun dewasa.
  • Pengendalian: menggunakan insektisida dgn bahan aktif Methidathion (Supracide 40 EC), Dimethoate (Perfecthion, Rogor 40 EC, Cygon), Diazinon (Basudin 60 EC), Phosphamidon (Dimecron 50 SCW), Malathion (Gisonthion 50 EC).
Ulat peliang daun (Phyllocnistis citrella.)
  • Bagian yg diserang adalah daun muda.
  • Gejala: alur melingkar transparan atau keperakan, tunas/daun muda mengkerut, menggulung, rontok.
  • Pengendalian: semprotkan insektisida dgn bahan aktif Methidathion (Supracide 40 EC, Basudin 60 EC), Malathion (Gisonthion 50 EC, 50 WP)< Diazinon (Basazinon 45/30 EC). Kemudian daun dipetik dan dibenamkan dalam tanah.

Tungau (Tenuipalsus sp. , Eriophyes sheldoni Tetranychus sp)
  • Bagian yg diserang adalah tangkai, daun dan buah.
  • Gejala: bercak keperak-perakan atau coklat pada buah dan bercak kuning atau coklat pada daun.
  • Pengendalian: semprotkan insektisida Propargite (Omite), Cyhexation (Plictran), Dicofol (Kelthane), Oxythioquimox (Morestan 25 WP, Dicarbam 50 WP).
Penggerek buah (Citripestis sagittiferella.)
  • Bagian yg diserang adalah buah.
  • Gejala: lubang yg mengeluarkan getah.
  • Pengendalian: memetik buah yg terinfeksi kemudian menggunakan insektisida Methomyl (Lannate 25 WP, Nudrin 24 WSC), Methidathion (Supracide 40 EC) yg disemprotkan pada buah berumur 2-5 minggu.
Kutu penghisap daun (Helopeltis antonii.)
  • Bagian yg diserang Helopeltis antonii.
  • Gejala: bercak coklat kehitaman dgn pusat berwarna lebih terang pada tunas dan buah muda, bercak disertai keluarnya cairan buah yg menjadi nekrosis.
  • Pengendalian: semprotkan insektisida Fenitrotionmothion (Sumicidine 50 EC), Fenithion (Lebaycid), Metamidofos (Tamaron), Methomil (Lannate 25 WP).
Ulat penggerek bunga dan puru buah (Prays sp.)
  • Bagian yg diserang adalah kuncup bunga jeruk manis atau jeruk bes.
  • Gejala: bekas lubang-lubang bergaris tengah 0,3-0,5 cm, bunga mudah rontok, buah muda gugur sebelum tua.
  • Pengendalian: gunakan insektisida dgn bahan aktif Methomyl (Lannate 25 WP) dan Methidathion (Supracide 40 EC). Kemudian buang bagian yg diserang.
Thrips (Scirtotfrips citri.)
  • Bagian yg diserang adalah tangkai dan daun muda.
  • Gejala: helai daun menebal, tepi daun menggulung ke atas, daun di ujung tunas menjadi hitam, kering dan gugur, bekas luka berwarna coklat keabu-abuan kadang-kadang disertai nekrotis.
  • Pengendalian: menjaga agar tajuk tanaman tidak terlalu rapat dan sinar matahari measuk ke bagian tajuk, hindari memakai mulsa jerami. Kemudian gunakan insektisida berbahan aktif Difocol (Kelthane) atau Z-Propargite (Omite) pada masa bertunas.
Kutu dompolon (Planococcus citri.)
  • Bagian yg diserang adalah tangkai buah.
  • Gejala: berkas berwarna kuning, mengering dan buah gugur.
  • Pengendalian: gunakan insektisda Methomyl (Lannate 25 WP), Triazophos (Fostathion 40 EC), Carbaryl (Sevin 85 S), Methidathion (Supracide 40 EC). Kemudian cegah datangnya semut yg dapat memindahkan kutu.
Lalat buah (Dacus sp.)
  • Bagian yg diserang adalah buah yg hampir masak.
  • Gejala: lubang kecil di bagian tengah, buah gugur, belatung kecil di bagian dalam buah.
  • Pengendalian: gunakan insektisida Fenthion (Lebaycid 550 EC), Dimethoathe (Roxion 40 EC, Rogor 40 EC) dicampur dgn Feromon Methyl-Eugenol atau protein Hydrolisate.
Kutu sisik (Lepidosaphes beckii Unaspis citri.)
  • Bagian yg diserang daun, buah dan tangkai.
  • Gejala: daun berwarna kuning, bercak khlorotis dan gugur daun. Pada gejala serangan berat terlihat ranting dan cabang kering dan kulit retak buah gugur.
  • Pengendalian: gunakan pestisida Diazinon (Basudin 60 EC, 10 G, Basazinon 45/30 EC), Phosphamidon (Dimecron 50 SCW), Dichlorophos (Nogos 50 EC), Methidhation (Supracide 40 EC).
Kumbang belalai (Maeuterpes dentipes.)
  • Bagian yg diserang adalah daun tua pada ranting atau dahan bagian bawah.
  • Gejala: daun gugur, ranting muda kadang-kadang mati.
  • Pengendalian: perbaiki sanitasi kebun, kurangi kelembaban perakaran. Kemudian gunakan insektisida Carbaryl (Sevin 85 S) dan Diazinon (Basudin 60 EC, 10 G).


Penyakit Tanaman Jeruk

CVPD
  • Penyebab: Bacterium like organism dgn vektor kutu loncat Diaphorina citri.Bagian yg diserang: silinder pusat (phloem) batang.
  • Gejala: daun sempit, kecil, lancip, buah kecil, asam, biji rusak dan pangkal buah oranye.
  • Pengendalian: gunakan tanaman sehat dan bebas CVPD. Selain itu penempatan lokasi kebun minimal 5 km dari kebun jeruk yg terserang CVPD. Gunakan insektisida utk vektor dan perhatikan sanitasi kebun yg baik.
Tristeza
  • Penyebab: virus Citrus tristeza dgn vektor Toxoptera. Bagian yg diserang jeruk manis, nipis, besar dan batang bawah jeruk Japanese citroen.
  • Gejala: lekuk batang , daun kaku pemucatan, vena daun, pertumbuhan terhambat.
  • Pengendalian: perhatikan sanitasi kebun, memusnahkan tanaman yg terserang, kemudian kendalikan vektor dgn insektisida Supracide atau
Cascade.
  • Woody gall (Vein Enation)
  • Penyebab: virus Citrus Vein Enation dgn vektor Toxoptera citridus, Aphis gossypii. Bagian yg diserang: Jeruk nipis, manis, siem, Rough lemon dan Sour

Orange.
  • Gejala: Tonjolan tidak teratur yg tersebar pada tulang daun di permukaan daun.
  • Pengendalian: gunaan mata tempel bebas virus dan perhatikan sanitasi lingkungan.
Blendok
  • Penyebab: jamur Diplodia natalensis. Bagian yg diserang adalah batang atau cabang.
  • Gejala: kulit ketiak cabang menghasilkan gom yg menarik perhatian kumbang, warna kayu jadi keabu-abuan, kulit kering dan mengelupas.
  • Pengendalian: pemotongan cabang terinfeksi, bekas potongan diberi karbolineum atau fungisida Cu. dan fungisida Benomyl 2 kali dalam setahun.
Embun tepung
  • Penyebab: jamur Odidium tingitanium. Bagian yg diserang adalah daun dan tangkai muda.
  • Gejala: tepung berwarna putih di daun dan tangkai muda.
  • Pengendalian: gunakan fungisida Pyrazophos (Afugan) dan Bupirimate (Nimrot 25 EC).
Kudis
  • Penyebab: jamur Sphaceloma fawcetti. Bagian yg diserang adalah daun, tangkai atau buah.
  • Gejala: bercak kecil jernih yg berubah menjadi gabus berwarna kuning atau oranye.
  • Pengendalian: pemangkasan teratur. Kemudian gunakan Fungisida Dithiocarbamate /Benomyl (Benlate).
Busuk buah
  • Penyebab: Penicillium spp. Phytophtora citriphora, Botryodiplodia theobromae. Bagian yg diserang adalah buah.
  • Gejala: terdapat tepung-tepung padat berwarna hijau kebiruan pada permukaan kulit.
  • Pengendalian: hindari kerusakan mekanis, celupkan buah ke dalam air panas/fungisida benpmyl, pelilinan buah dan pemangkasan bagian bawah pohon.
Busuk akar dan pangkal batang
  • Penyebab: jamur Phyrophthoranicotianae. Bagian yg diserang adalah akar dan pangkal batang serta daun di bagian ujung dahan berwarna kuning.
  • Gejala: tunas tidak segar, tanaman kering.
  • Pengendalian: pengolahan dan pengairan yg baik, sterilisasi tanah pada waktu penanaman, buat tinggi tempelan minimum 20 cm dari permukaan tanah.
Buah gugur prematur
  • Penyebab: jamur Fusarium sp. Colletotrichum sp. Alternaria sp. Bagian yg diserang: buah dan bunga
  • Gejala: dua-empat minggu sebelum panen buah gugur.
  • Pengendalian: Fungisida Benomyl (Benlate) atau Caprafol.
Jamur upas
  • Penyebab: Upasia salmonicolor. Bagian yg diserang adalah batang.
  • Gejala: retakan melintang pada batang dan keluarnya gom, batang kering dan sulit dikelupas.
  • Pengendalian: kulit yg terinfeksi dikelupas dan disaput fungisida carbolineum. Kemudian potong cabang yg terinfeksi.
Kanker
  • Penyebab: bakteri Xanthomonas campestris Cv. Citri. Bagian yg diserang adalah daun, tangkai, buah.
  • Gejala: bercak kecil berwarna hijau-gelap atau kuning di sepanjang tepi, luka membesar dan tampak seperti gabus pecah dgn diameter 3-5 mm.
  • Pengendalian: Fungisida Cu seperti Bubur Bordeaux, Copper oxychlorida. Selain itu utk mencegah serangan ulat peliang daun adalah dgn mencelupkan mata tempel ke dalam 1.000 ppm Streptomycin selama 1 jam.
Sekian dan terimakasih.

Hama dan Penyakit Tanaman Nangka

Hama dan Penyakit Tanaman Nangka

Hama Nangka

Ulat diaphania caesalis yaitu penggerek pucuk, membuat terowongan sampai ke kuncup, pucuk muda, & buah. Pemotongan bagian yg terserang memutuskan daun hidupnya karena ulat-ulat ini akan menjadi pupa di dlm terowongan itu; buah dilindungi dengan dibungkus atau disemprot insektisida Thiodan 35 EC. 

Penggerak kulit batang; berupa ulat-ulat Indarbela tetraonis & Batocera rufomaculata diberantas dengan mengasap lubang-lubang mereka/disemprot dengan insektisida sistemik yg mengandung bahan aktif karboril (Sevin 85 S). 


Kumbang-kumbang belalai (weevil) coklat yg menyerang kuncup, Ochyromera artocarpi, merupakan hama nangka yg khas. Tempayaknya (grubs) masuk ke dlm kuncup & buah yg masih lunak, yg dewasa memakan daun. Bagian tanaman yg terserang dihancurkan, & diperlukan insektisida. Menyeruaknya kumbang bersayap selaput (spittle bug), Cosmoscarata relata, memakan daun muda. Nimfa hidup bersama-sama dlm suatu massa busa yg disekresi oleh mereka ; nimfa dipungut & dihancurkan. Larva lalat buah , Dacus dorsalis & D. umbrosus sering menyerang buah. Untuk menghindari serangannya, buah nangka hendaknya dibungkus; buah yg matang atau kelewat matang jangan dibiarkan bergeletakkan di tanah, tetapi hendaknya dikubur-kubur dalam, & penyemnprotan pada umpan dapat dilakukan. 

Hama-hama lainnya adalah bermacam-macam serangga pengisap, seperti kutu tepung, afid, lalat putih, & ‘thrips’, juga ulat perekat daun (leaf webber). 

Hama nangka yg lain adalah kepik Helopeltis (Miridae,Hemiptera). Nimfa & kepik dewasa menghisap cairan bagian tanaman yg masih muda (daun & buah). Ukuran telurnya 1,5 m, diletakkan dengan cara ditusukkan pada jaringan tanaman. Masa inkubasi 5-7 hari. Nimfa & kepik dewasa warnanya bervariasi, hijau atau kuning-kehitaman & kuning oranye. Mengalami 5 kali masa instar. Kepik dewasa panjangnya berkisar 6,5-7,5 mm dengan kemampuan bertelur sampai 18 butir. Beberapa musuh alami diantaranya yg berupa parasit adalah Euphorus helopeltis, Erythmelus helopeltis & sebagai predator adalah Sycanus leucomesus, Isyndrus sp. & Cosmolestes picticeps. Untuk pengendaliannya populasi biasanya terkendali oleh musuh alam apabila populasi tinggi dapat dilakukan dengan insektisida misal Lannate 25 WP, Atabron 50EC.


Penyakit Nangka

Bakteri mati bujang (Erwinia carotovora) sering menyerang pohon nangka, juga cempedak. Jamur tersebut pertama kali menyerang bagian pucuk & turun pada tajuk berikutnya. serangan yg hebat dapat mematikan pohonnya. Di India dilaporakan serangan busuk akar & busuk batang dilakukan oleh jamur Rhizopus artocarpi yg menyebabkan keruguian tanaman hingga 15-30 %. 

Jamur ini umunya meyerang tunas bunga. Beberapa penyakit yg cukup penting antara lkain Colletotrichum lagenarium, Phomopsis artocarpina, Septoria artocarpi, & Corticium salmonicolor. Jamur tersebut kebanyakan menyerang pada musim penghujan. Pemotongan bagian tanaman yg terserang akan banyak membantun mengatasi serangan, di samping itu sanitasi kebun & pemupukan dapat meningkatkan kesehatan tanaman

Hama Pada Semua Jenis Aglaonema

Hama adalah hewan penggangu tanaman yang secara fisik masih dapat dilihat secara kasat mata tanpa bantuan alat . Hama pada aglaonema bermacam-macam dan gejalanya berbeda-beda . Setiap hama memiliki cara penanggulangan tersendiri .


Kutu Putih / Kutu kebul

Kutu ini lebih banyak menyerang aglaonema di daratan rendah dibanding dengan di dataran tinggi . Kutu putih Whitefly ini dapat ditemukan di batang dan daun bagian bawah . Kutu tersebut mengisap cairan daun dan meninggalkan jelaga pada daun . Hama ini dapat ditanggulangi dengan membersihkannya dengan kapas yang telah dicelupkan insektisida encer . Setelah itu , daun disemprot kembali dengan insektisida . Insektisida kontak atau sismetik yang bias digunakan , Mitac 200 EC dosis 1-2ml/l , dan Confidor 200 SL dosis 1 ml/l .

Ulat

Hama ulat ada yang menyerang daun , yaitu Spodoptera sp . , ditandai dengan daun muda atau setengah tua yang rombeng dari pinggir . Ada juga ulat yang menyerang batang , yaitu Noctuidae . Penanggulangannya dapat dilakukan dengan mengambil ulat secara mekanis . Namun , bila jumlahnya sudah banyak , ulat dapat dibasmi dengan menyemprotkan insektisida 2 minggu sekali . Insektisida yang dapat digunakan adalah Decis 25 CE 0,5-1 ml/l , Atabron 1 ml/l , atau Buldok 25 EC dosis 0,5-2 ml/l .

Belalang

Gejala penyerangan hama belalang ini sama dengan ulat , yaitu daun menjadi rombeng . Hama ini dapat ditanggulangi dengan penangkapan secara manual . Tangkap belalang yang belum bersayap atau saat masih pagi dan berembun biasanya belalang tidak dapat terbang dengan sayap basah . Anda juga dapat menyemprotkan Confidor 200 SL dosis 1 ml/l . Campurkan Decis 2,5 EC dosis 0,75-1 ml/l dengan frekuensi penyemprotan 2 minggu sekali .

Kutu Perisai

Hama ini menyerang bagian daun . Kutu ini biasanya terdapat koloni dengan membentuk barisan di bagian tulang daun . Sesuai namanya , kutu ini memiliki bentuk fisik seperti perisai pada punggungnya . Kutu perisai dapat diatasi menggunakan insektisida sistemik dengan bahan aktif acephate .

Root Mealy Bugs

Hama ini menyerang bagian akar tanaman , bentuknya seperti kutu putih . Tanaman menjadi kurus , kerdil , daunnya mengecil dan layu . Anda dapat menanggulangi dengan mengganti media tanam . Selain itu , gunakan insektisida Confidor 200 SL dosis 0,5-0,75 ml/l atau

Kutu Sisik

Menyerang bagian daun , pelepah , batang dan bunga . Bentuknya seperti lintah dengan ukuran yang jauh lebih kecil . Kutu sisik dapat menyebabkan daun mengerut , kuning , layu , dan akhirnya mati . Anda juga dapat menyemprotkan insektisida Confidor 200-SL atau Agrimex 18 EC dosis 1 ml// dengan frekuensi 1 minggu sekali.

Hama dan Penyakit Tanaman Buah Strawberry

Berikut ini akan disajikan tentang hama dan penyakit yang menyerang tanaman stroberi. 

Hama Tanaman Strawberry

Kutu daun (Chaetosiphon fragaefolii)
  • Kutu berwarna kuning-kuning kemerahan, kecil (1-2 mm), hidup bergerombol di permukaan bawah daun.
  • Gejala: pucuk/daun keriput, keriting, pembentukan bunga/buah terhambat.
  • Pengendalian: dgn insektisida Fastac 15 EC & Confidor 200 LC.
Tungau (Tetranychus sp. & Tarsonemus sp.)
  • Tungau berukuran sangat kecil, betina berbentuk oval, jantan berbentuk agak segi tiga & telur kemerah-merahan.
  • Gejala: daun berbercak kuning sampai coklat, keriting, mengering & gugur.
  • Pengendalian: dgn insektisida Omite 570 EC, Mitac 200 EC atau Agrimec 18 EC.
Kumbang penggerek bunga (Anthonomus rubi), kumbang penggerek akar (Otiorhynchus rugosostriatus) & kumbang penggerek batang (O. sulcatus).
  • Gejala: di bagian tanaman yg digerek terdapat tepung.
  • Pengendalian: dgn insektisida Decis 2,5 EC, Perfekthion 400 EC atau Curacron 500 EC pada waktu menjelang fase berbunga.
Kutu putih (Pseudococcus sp.)
  • Gejala: bagian tanaman yg tertutupi kutu putih akan menjadi abnormal.
  • Pengendalian: kimia dgn insektisida Perfekthion 400 EC atau Decis 2,5 EC.
Nematoda (Aphelenchoides fragariae atau A. ritzemabosi)
  • Hidup di pangkal batang tanaman stroberi bahkan sampai pucuk tanaman.
  • Gejala: tanaman tumbuh kerdil, tangkai daun kurus & kurang berbulu.
  • Pengendalian: dgn nematisida Trimaton 370 AS, Rugby 10 G atau Nemacur 10 G.


Penyakit Tanaman Strawberry

Kapang kelabu (Botrytis cinerea)
  • Gejala: bagian buah membusuk & berwarna coklat lalu mengering.
  • Pengendalian: dgn fungisida Benlate atau Grosid 50 SD.
Busuk buah matang (Colletotrichum fragariae Brooks)
  • Gejala: bah masak menjadi kebasah-basahan berwarna coklat muda & buah dipenuhi massa spora berwarna merah jambu.
  • Pengendalian: dgn fungisida berbahan aktif tembaga seperti Kocide 80 AS, Funguran 82 WP, Cupravit OB 21.
Busuk rizopus (Rhizopus stolonifer).
  • Gejala: buah busuk, berair, berwarna coklat muda & bila ditekan akan mengeluarkan cairan keruh; di tempat penyimpanan, buah yg terinfeksi akan tertutup miselium jamur berwarna putih & spora hitam.
  • Pengendalian: membuang buah yg sakit, pasca panen yg baik & budidaya dgn mulsa plastik.
Empulur merah (Phytophthora fragariae Hickman)
  • Gejala: jamur menyerang akar sehingga tanaman tumbuh kerdil, daun tdk segar, kadang-kadang layu terutama siang hari.
Embun tepung (Sphaetotheca mascularis atau Uncinula necator).
  • Gejala: bagian yg terserang, terutama daun, tertutup lapisan putih tipis seperti tepung, bunga akan mengering & gugur.
  • Pengendalian: dgn fungisida Benlate atau Rubigan 120 EC.
Daun gosong (Diplocarpon earliana atau Marssonina fragariae)
  • Gejala: Daun berbercak bulat telur sampai bersudut tdk teratur, berwarna ungu tua.
  • Pengendalian kimia dgn fungisida Dithane M-45 atau Antracol 70 WP.
Bercak daun
  • Penyebab : Ramularia tulasnii atau Mycosphaerella fragariae,
  • Gejala: bercak kecil ungu tua pada daun. Pusat bercak berwarna coklat yg akan berubah menjadi putih;
Pestalotiopsis disseminata,
  • Gejala: bercak bulat pada daun. Pusat bercak berwarna coklat fua dikelilingi bagian tepi berwarna coklat kemerahan atau kekuningan, daun mudah gugur;
Rhizoctonia solani,
  • Gejala : bercak coklat-hitam besar pada daun.
  • Pengendalian kimia dgn fungisida bahan aktif tembaga seperti Funguran 82 WP, Kocide 77 WP atau Cupravit OB 21.
Busuk daun (Phomopsis obscurans).
  • Gejala: noda bula berwarna abu-abu dikelilingi warna merah ungu, kemudian noda membentuk luka mirip huruf V.
  • Pengendalian: dgn Dithane M-45, Antracol 70 WP atau Daconil 75 WP.
Layu vertisillium (Verticillium dahliae)
  • Gejala: daun terinfeksi berwarna kekuning-kuningan hingga coklat, layu & tanaman mati.
  • Pengendalian: melalui fumigasi gas dgn Basamid-G.
Virus

Ditularkan melalui serangga aphids atau tungau.

Gejala: terjadi perubahan warna daun dari hijau menjadi kuning (khlorosis) sepanjang tulang daun atau totol-totol (motle), daun jadi keriput, kaku, tanaman kerdil.

Pengendalian: menggunakan bibit bebas virus, menghancurkan tanaman terserang, menyemprot pestisida utk mengendalikan serangga pembawa virus. 

Pencegahan hama & penyakit umumnya dapat dilakukan dgn menjaga kebersihan kebun/tanaman, menanam secara serempak (untuk memutus siklus hidup), menanam bibit yg sehat, memberikan pupuk sesuai anjuran sehingga tanaman tumbuh sehat, melakukan pergiliran tanaman dgn tanaman bukan keluarga Rosaceae & memangkas bagian tanaman/mencabut tanaman yg sakit. 

Membudidayakan stroberi dgn mulsa plastik juga akan menekan pertumbuhan hama/ penyakit. Khusus utk penyakit, perbaikan drainase biasanya dapat menurunkan serangan.

Hama dan Penyakit Tanaman Pinang


HAMA DAN PENYAKIT TANAMAN PINANG

Hama Tanaman Pinang

1. Bagworms.

Penyebab adalah Manatha albipes Moore. Ditemukan di bagian bawah daun dan membuat sejumlah lobang-lobang kecil.

2. Termit atau rayap.

Termit dapat menyerang benih atau bibit pada musim kemarau. Serangan pada bibit dimulai pada pangkal batang, sehingga bagian pucuk menjadi layu dan lama kelamaan tanaman mati. Pengendalian rayap dapat dilakukan dengan menutup bagian pangkal batang dengan pasir ataupun secara kimiawi menggunakan insektisida Aldrin.

3. Belalang (Aularches miliaris Linn)

Menyerang lamina daun sehingga meyebabkan daun berlubang.

4. Kutu (mite)

Dikenal 3 jenis kutu menyerang tanaman pinang. Kutu merah (Raolella indica Hirst) dan kutu putih (Oligonychus Indicus Hirst). Kutu oranye, Kutu merah dan Kutu putih hidup berkelompok di bawah daun dan mengisap cairan di daun mengakibatkan daun berwarna kekuningan, coklat dan akhirnya mengering. Kutu oranye (Dolichotetranychus sp.) menyerang buah yang masih muda dan bersembunyi dibagian dalam perianth buah serta mengisap cairan, sehingga buah akan gugur Pengendalian dilakukan dengan penyemprotan Kelthan 1.86 ml/l air ataupun penggunaan predator antara lain Chilocorus sp.

5. Kepik (Carvalhoia arecae Miller and China)

Kepik ditemukan berkumpul di bagian ujung ketiak daun. Kepik dewasa berwarna hitam dan Kepik muda berwarna hijau kekuningan, keduanya mengisap cairan pada bagian spindle sehingga pertumbuhan tidak normal. Daun yang telah diisap nampak garis-garis nekrotik berwarna coklat tua lama kelamaan daun mengering dan patah. Pengendalian dilakukan dengan insektisida sistemik Sevin 4G dengan dosis 10 g per tanaman setiap 3 bulan.

6. Tempayak akar (Leucopholis burmeisteri Brenske) 

Tempayak akar atau dikenal tempayak putih merupakan hama yang cukup merugikan tanaman pinang. Bentuk hama ini seperti hurup ”V” serta tubuh lembut dengan kaki berbulu warna coklat.

7. Ulat bunga (Tirathaba mundella Walk)

Ulat bunga menyerang mayang dengan mengisap cairan dalam bunga. Ulat dewasa meletakan telurnya pada bagian spatha. Sehingga Spadix tidak dapat membuka dengan sempurna. Pengendalian secara kimiawi dengan menggunakan Endre x 20 EC 0.125 % atau Malathion 50 % EC dengan dosis 2 ml / l air

8. Gugur buah muda

Gugur buah muda disebabkan oleh kepik Pentatomid (Halyomorpha marmorea F). Buah pinang yang ditusuk dengan belalai akan mengeluarkan cairan. Buah yang ditusuk akan berwarna hitam pada permukaan kulit buah dan dagingn buah akan berwarna coklat gelap. Gejala ini akan berkembang terus sehingga menyebabkan buah gugur. Pengendalian secara kimiawi dilakukan dengan menyemprot Endosulfan 0.05% pada tandan.

9. Kumbang pinang (Coccotrypes carpophagus Horn).

Kumbang pinang dewasa menyebabkan kerusakan dengan menggerek buah sehingga berlubang sampai pada bagian biji. Besar lubang gerekan kira-kira berdiameter 0.6 - 1.0 mm.

10. Coffee bean weevil (Araecerus fasculatus D.) 

Coffee bean weevil menyerang biji pinang yang mengakibatkan buah berlubang sebesar 1.5 - 2.5 mm. Hama ini ditemukan pada buah pinang di bagian dalam perianth. Musuh alami adalah parasit Anisopteromatus calandra Howard.

11. Kumbang sigaret (Lasioderma serricome F.)

Kumbang dewasa berwarna coklat kekuningan dengan bulu-bulu bercahaya . Kumbang ini menggerek buah dan bekas gerekannya terlihat seperti tepung . Musuh alaminya yaitu parasit Anisopteromatus calandrae Howard.

12. Ngengat padi (Corcyra cephalonica Stainton) 

Ngengat membuat rongga-rongga didalam buah pinang dan memakan daging buahnya. Pengendalian hama gudang ini dengan mengguunakan tablet phostoxin dengan dosis 800 g/1000 cm³ luas gudang.


Penyakit Tanaman Pinang

1. Bercak daun menguning (yellow leaf spot)

Penyebabnya penyakit brtcak daun adalah cendawan Curvularia sp. Gejala pada lamina daun, terlihat bercak-bercak kuning 3-10 mm diameter. Infeksi lanjut dapat menyebabkan kematian bibit. Penyemprotan dengan Dithane dapat mengurangi serangan.

2. Leaf blight.

Penyebabnya adalah Pestalotia palmarum Cooke. Gejala penyakit berupa bercak-bercak coklat kekuningan pada helaian daun. Pemupukan N dan K2O ataupun dengan pemberian naungan dapat menekan penyakit.

3. Karat merah daun (red rust)

Penyebabnya yaitu Cephaleuros sp. Cendawan ini menginfeksi batang dan daun. Sehingga terlihat bercak tak beraturan pada bagian batang dan daun yang berwarna kekuningan. Untuk menghindari perlu dibuat naungan secukupnya.

4. Busuk akar/pangkal batang (root/collar rot)

Penyebabnya adalah cendawan Fusarium sp. dan Rhizoctoria sp. Penyakit ini biasanya terlihat di pembibitan dengan sistim drainase jelek. Serangan cendawan ini mengakibatkan tanaman layu.

5. Busuk buah (fruit rot)

Penyebabnya adalah Phytopthora arecae. Gejala bercak basah terlihat pada permukaan buah dekat kelopak bunga (perianth). Bercak ini akan menyebar sehingga warna buah berubah menjadi hijau tua. Jika bercak mencapai bagian apikal buah maka akan menyebabkan buah gugur. Pengendalian secara kimia dapat di lakukan dengan fungisida Copper oxychlorride serta fitosanitasi (pembersihan) kebun. Pengendalian lainnya dengan melakukan fotosanitasi pada kebun-kebun.

6. Busuk pucuk (bud rof)

Penyebabnya sama dengan penyakit busuk buah. Yaitu P. Arecal. Bagian yang diserang adalah pangkal spidel pangkal spindle berwarna berangsur bagian yang terinfeksi serangan berat menyebabkan kuning coklat pucuk membusuk dengan bau khas. Pembersihan lokasi pertanaman dari tanaman terserang akan mencegah penyebaran penyakit.

7. Daun menguning (yellow leaf disease)

Penyebabnya adalah mycoplasm like organism (MLO). Daun yang terserang memperlihatkan warna kekuningan dan terdapat garis-garis nekrotik. Pada lamina daun. Pertumbuhan daun akan mengecil sehingga produksi buah menurun. Daging buah berwarna kehitaman. Pengendalian dengan cara terpadu dengan pemupukan, penggunaan fungisida 2 g phorate granula per pohon serta fitosanitasi.

8. Busuk kaki (foot rot)

Penyebabnya adalah Ganoderma lucidum. Munculnya penyakit ini karena kurang pemeliharaan kebun, drainase jelek. Tanaman yang terserang menunjukan gejala kekeringan dimana daun menguning, terkulai dan akhirnya patah. Infeksi lanjut yaitu batang terlihat bercak coklat tidak beraturan dan mengeluarkan cairan. Akar tanaman akan membusuk. Untuk menghindari perlu pengaturan sistim drainase, kebersihan kebun. Bebeberapa mikroorganisme antagonis seperti Trichoderma sp, Streptomyces sp. dapat menjadi agen hayati pengendalian penyakit ini.

9. Die back pembungaan dan bubur buah.

Cooletotrichum gloesporioides berasosiasi dengan penyakit ini. Gejalanya terlihat tulang daun menguning dan terlihat mengering mulai ujung daun sampai ke arah pangkal. Bunga betina akan gugur. Faktor lainnya yang menyebabkan gugur buah adalah kegagalan polinasi, kandungan unsur hara kurang, cekaman air dan temperatur atupun faktor fisiologis.

Pengendalian dengan fungisida Dithane 4 g/L air pada 2 tahap yaitu dilakukan pada saat bunga betina terbuka dan pada 20-24 hari berikutnya.

10. Bacterial leaf stripe.

Penyebab yaitu Xanthomonas campestris pv. Arecae. Gejala daun terlihat bercak-bercak selebar 0.5-1.0 cm. Permukaan bagian bawah daun ditutupi oleh bakteri. Daun yang terserang menimbulkan bercak yang tidak teratur berwarna putih keabuan atau kekuningan. Penyemprotan dengan antibiotik tetracyclin 1 g/2 L air yang dilakukan setiap 2 minggu.

11. Mengecil (Band)

Penyebab penyakit ini belum diketahui. Gejalanya yaitu daun menjadi pendek, mengecil dan berbentuk sapu. Warna daun menjadi hijau tua, batang meruncing dan jarak antar ruas batang memendek. Mahkota pohon bentuk seperti berbunga mawar, sehingga pembungaan menjadi tidak sempurna, dan produksi buah menurun. Pengendalian penyakit dilakukan dengan perbaikan drainase, penggemburan tanah. Pemberian campuran Copper sulfat dengan kapur perbandingan 1 : 1 dengan dosis 225 g per pohon per 6 bulan dapat memperbaiki kondisi lingkungan tumbuh.

12. Batang berdarah (stem bleeding)

Penyebabnya adalah Thielaviopsis paradoxa Von Hohn (Ceralostomelia paradoxa). Terjadi perobahan warna pada bagian yang terinfeksi di bagian batang dan jaringan lembut serta mengeluarkan cairan berwarna coklat gelap. Dugaan bahwa penyakit ini berkembang akibat air tanah yang dangkal dan drainase jelek. Untuk menghindari serangan hama Xyleborus sp. Yang dapat masuk melalui lobang tersebut dilakukan penempelan dengan tar dan insektisida.

13. Buah retak (nut splitting)

Penyebabnya karena ketidak seimbangan fisiologis. Karakteristik penyakit ini terlihat dari buah pinang yang retak-retak. Gejala yang dimulai dengan buah kekuningan ketika buah setengah matang atau tiga per empat bagian matang. Perbaikan drainase dan penyemprotan dengan Borax 2 g/1 l air pada tahap awal dapat menekan serangan penyakit.

Umumnya buah pinang akan terserang penyakit pada saat panen, prosesing sampai penyimpanan. Sumber infeksi terutama berasal dari :
  • Infeksi pada tanaman. Buah pinang yang berasal dari tanaman terserang penyakit buah pecah (nut spliting) akan mudah terserang juga oleh organisme sekunder seperti: Aspergiles sp., Penicilium sp.
  • Infeksi selama panen dan prosesing. Buah pinang yang biasanya panen kemudian terjatuh ketanah sering ditemukan adanya infeksi ke buah tersebut. Jenis cendawan yang ditemukan seperti Aspergillus niger, A. Flavus, Botryodiplodia theobromae dan Rhizopos sp. Kurangnya pemanasan selama proeses pengeringan awal tentu akan memudahkan tumbuhnya cendawan-cendawan tertentu.
  • Infeksi selama pengangkutan dan penyimpanan. Buah pinang yang dipanen dan keranjang yang digunakan untuk menampung harus bersih. Demikian pula pada penyimpanan di gudang haruslah dalam keadaan yang terkontrol. Cendawan yang sering ditemukan pada proses pasca panen adalah Aspergillus niger arecae, Subramanella arecae.
Perlu diketahui untuk pengendalian penyakit selama panen sampai di gudang yang perlu diketahui adalah : menghindari kontak langsung buah pinang dengan tanah, buah pinang sebaiknya dimasukan ke dalam karung goni polyetylen dan melakukan fumigasi ruang penyimpanan dengan ethylene dibromide.

Hama Penyakit Jangkrik


Dalam hal membudidayakan jangkrik tidak lepas dari yang namanya hama dan penyakit. Berikut adalah sedikit artikel tentang Hama dan penyakit dalam budidaya jangkrik. 

Penyakit, Hama & Penyebabnya 

Sampai sekarang belum ditemukan penyakit yg serius menyerang jangkrik. Biasanya penyakit itu timbul karena jamur yg menempel di daun. Sedangkan hama yg sering mengganggu jangkrik adalah semut atau serangga kecil, tikus, cicak, katak & ular.

Pencegahan Serangan Hama & Penyakit 

Untuk menghindari infeksi oleh jamur, maka makanan & daun tempat berlindung yg tercemar jamur harus dibuang. Hama pengganggu jangkrik dpt diatasi dengan membuat dengan membuat kaleng yg berisi air, minyak tanah atau mengoleskan gemuk pada kaki kandang.

Pemberian Vaksinasi & Obat

Untuk saat ini karena hama & penyakit dpt diatasi secara prefentif, maka penyakit jangkrik dpt ditekan seminimum mungkin. Jadi pemberian obat & vaksinasitidak diperlukan.

Hama Penyakit Tumbuhan

Gangguan hama dan penyakit pada tumbuhan dapat dialami oleh berbagai sistem organ pada tumbuhan. Gangguan ini dapat disebabkan karena kelainan genetis, kondisi lingkungan yang tidak sesuai, atau karena serangan hama dan penyakit. Gangguan hama dan penyakit dalam skala besar pada tanaman budidaya dapat mengganggu persediaan bahan pangan bagi manusia.


Sebelum membahas lebih jauh tentang hama dan penyakit tumbuhan disini kami juga membagikan penjelasan tentang "Hama dan Penyakit Tanaman" Lengkap dengan pembahasan tentang pengendalianya.

1. Hama Tanaman

Hama adalah semua binatang yang mengganggu dan merugikan tanaman yang dibudidayakan manusia. Hewan yang termasuk hama dikelompokkan ke dalam beberapa golongan, yaitu sebagai berikut.
  • Mamalia, misalnya musang, tupai, tikus, dan babi hutan.
  • Aves, misalnya burung dan ayam.
  • Serangga, misalnya belalang, wereng, dan kumbang.
  • Molusca, misalnya siput dan bekicot.
Beberapa contoh hama yang sering kamu jumpai dalam kehidupan sehari-hari adalah sebagai berikut.
  1. Belalang setan (Aularches miliaris), menyebabkan kerusakan terhadap tanaman besar, misalnya berbagai jenis pisang, kelapa, pinang, dan jeruk.
  2. Lalat buncis (Agromyza phaseoli), menyebabkan kerusakan pada bagian batang, daun, dan buah tanaman buncis. Lalat ini biasanya membuat saluran-saluran di daun, batang, dan tangkai daun. Dengan adanya saluran ini tanaman menjadi layu. Tanaman yang masih muda dapat mati, sedangkan tanaman yang telah tua akan terhambat pertumbuhannya.
  3. Tungau bercak dua (Tetranichus urticae), memakan hampir semua jenis tanaman budidaya seperti buncis, kacang tanah, mentimun, semangka, apel, jeruk, dan jagung. Tanaman yang diserang oleh tungau daunnya akan menjadi bercakcercak dan berwarna kekuningan.
  4. Hama penggerek umbi kentang. Hama pada umbi kentang ini adalah ulat berwarna kelabu Phthorimaea aperculella dengan panjang tubuh 1 cm, yang akan tumbuh menjadi ngengat berwarna kelabu.
  5. Hama pemakan daun kubis. Hama yang menyerang daun kubis adalah ulat berwarna hijau muda, berbulu hitam, kepala kekuningan dengan bercak-bercak gelap, dan ukuran tubuhnya sekitar 9 mm.
  6. Hama pada bawang putih, berupa ulat berwarna hijau atau cokelat tua dengan garis kekuningan, tubuhnya berukuran 25 mm. Bawang putih yang terkena hama daunnya berlubang dan ada bekas gigitan berwarna putih atau daun menjadi berselaput tipis dan layu.
  7. Hama penggerek buah mangga, berupa ulat dengan warna tubuh berselang-selang merah dan putih dan ulat cokelat kehitaman. Buah mangga yang terserang hama menjadi berlubang-lubang dan di sekitarnya terdapat kotoran yang meleleh dari dalam. Lubang ini dapat menembus sampai ke biji. Jika buah dibelah, maka bagian dalamnya sudah rusak dan busuk.
  8. Hama tikus, sering menyerang tanaman padi dan palawija.
  9. Belalang, juga sering menyerang tanaman padi.
  10. Burung pipit, dalam jumlah yang besar dapat menyerang tanaman padi dengan memakan biji padi yang menimbulkan kerugian yang tidak sedikit.
  11. Hama wereng, selain sebagai hama tanaman padi, wereng juga menjadi vektor penyebar virus penyebab penyakit tungro.
  12. Babi hutan, menyerang tanaman budidaya terutama umbiumbian.
  13. Kera, menyerang tanaman budidaya buah-buahan dan sayuran.

Untuk menanggulangi serangan hama, dapat dilakukan dengan memberikan pestisida. Terdapat beberapa jenis pestisida buatan, misalnya insektisida (untuk menanggulangi serangan serangga), molisida (menanggulangi serangan Mollusca), dan rodentisida (untuk menanggulangi serangan rodensia/binatang pengerat).

Namun demikian penggunaan pestisida buatan berdampak buruk terhadap lingkungan, sehingga sekarang banyak dikembangkan biopestisida. Contoh biopestisida untuk memberantas serangga dengan memanfaatkan ekstrak daun mimba dan daun paitan.

Selain cara di atas, untuk menanggulangi hama dapat dilakukan dengan memanfaatkan musuh alaminya, misalnya tikus ditanggulangi dengan burung hantu. Teknik lain yang digunakan untuk mencegah perkembangan serangga adalah dengan teknik jantan mandul. Caranya dengan dibiakkan serangga jantan mandul, lalu dilepaskan pada musim kawin. Serangga betina yang kawin dengan jantan mandul tidak akan menghasilkan telur fertil dan keturunan, sehingga populasi hama akan menurun.

2. Penyakit pada Tanaman

Tanaman dikatakan sakit apabila ada perubahan atau gangguan pada organ-organ tanaman. Tanaman yang sakit menyebabkan pertumbuhan dan perkembangannya tidak normal. Penyakit tanaman disebabkan oleh mikroorganisme misalnya jamur, virus, dan bakteri. Selain itu penyakit tanaman dapat disebabkan karena kekurangan salah satu atau beberapa jenis unsur hara.


Tanda-tanda tanaman yang terkena penyakit adalah sebagai berikut.
  1. Layu, tanaman yang layu karena sakit berbeda dengan yang kekurangan air. Kamu dapat mengujinya dengan menyiram tanaman dengan air. Jika tanaman tetap layu setelah disiram air, kemungkinan ada bagian akar dan jaringan dalam batang yang rusak oleh bakteri atau virus.
  2. Rontok, bila kerontokan terjadi pada daun, ranting, buah, dan bunga secara bersamaan dapat dipastikan bahwa tanaman tersebut menderita sakit. Penyebabnya dapat karena parasit, nonparasit, atau serangan hama.
  3. Perubahan warna, misalnya daun menjadi berwarna kuning, redup, atau hijau pucat dalam jumlah banyak mengindikasikan bahwa tanaman itu sakit. Tetapi perubahan warna pada daun juga dapat disebabkan oleh rusaknya klorofil atau karena kekurangan cahaya matahari.
  4. Daun berlubang, biasanya diawali oleh bercak berbentuk lingkaran, kemudian kering dan terbentuk lubang.
  5. Kerdil, terjadi pada daun, buah, atau bagian lainnya.
  6. Daun mengeriting
  7. Busuk pada batang, daun, atau buah
  8. Semai roboh
Beberapa contoh penyakit yang menyerang tumbuhan adalah sebagai berikut.
  1. Penyakit layu cabai. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri. Cabai yang terkena penyakit ini mempunyai ciri-ciri daun muda layu diikuti dengan menguningnya daun-daun tua.
  2. Penyakit hawar daun kentang. Disebabkan oleh jamur, gejalanya pada tepi-tepi daun ditemukan bercak-bercak terutama pada suhu rendah, kelembapan tinggi, dan curah hujan tinggi.
  3. Penyakit busuk daun bawang merah. Disebabkan oleh jamur, gejalanya di dekat ujung daun timbul bercak hijau pucat, di permukaan daun berkembang jamur berwarna putih ungu, daun menguning, layu, dan mengering. Daun yang telah mati akan berwarna putih dan banyak terdapat jamur hitam.
  4. Penyakit tungro pada tanaman padi. Penyakit ini menyebabkan padi tumbuh kerdil dan tidak normal. Disebabkan oleh virus tungro dengan perantaraan wereng.
  5. Penyakit mosaik, banyak menyerang tanaman tembakau yang disebabkan oleh virus TMV (Tobacco Mosaic Virus).
Tanaman yang terkena penyakit karena kekurangan unsur hara dapat dicegah dan ditanggulangi dengan melakukan pemupukan yang tepat. Sedangkan penyakit karena mikroorganisme dapat ditanggulangi dengan memberikan pesitisida, misalnya bakterisida (memberantas bakteri parasit) dan fungisida (memberantas jamur parasit). Selain pestisida buatan, sekarang telah banyak dibuat pestisida alami yang lebih aman terhadap lingkungan. Contohnya jamur dapat diberantas dengan bubur bordeaux yaitu campuran yang mengandung kalsium karbonat dan senyawa tembaga.

Hama Penyakit Tanaman Buncis

Berikut ini adalah hama dan penyakit yang sering menyerang tanaman buncis

A. HAMA PADA TANAMAN BUNCIS.

1. Kumbang Daun.

Gejalanya daun kelihatanberlubang-lubang bahkan kadang-kadang tinggal kerangka atau tulang-tulangdaunnya saja. Tanaman menjadi kerdil dan polongnya kecil-kecil.

Pengendaliannya : Bila sudah terlihat adanya telur, larva, maupun kumbangnyamaka dapat langsung dibunuh dengan tangan. Atau dapat juga diberantas denganinsektisida Lannate 25 WP, dengan konsentrasi 1,5-3 cc/l air atau 300-6001larutan setiaphektar.


2. Penggerek polong

Gejalanya : polongyang masih muda mengalami kerusakan, bijinya banyak yang keropos. Akan tetapi,kerusakan ini tidak sampai mematikan tanaman buncis.

Pengendalian : Dilakukan dengan tanam serentak, usahakan pula tidak ada tanamaninang disekitar tanaman buncis, misalnya tanman orok-orok perlu juga dilakukanpenyemprotan dengan insektisida.

3. Lalat kacang

Gejalanya : Daunberlubang-lubang dengan arah tertentu, yaitu dari tepi daun menuju tangkai atautulang daun, gejala lebih lanjut berupa pangkal batang yang membengkok/pecahkemudian tanaman menjadi layu,berubah kuning, dan akhirnya mati yang masihmuda. Apabila tidak mati maka tumbuhnya kerdil sehingga produksinya sedikit.Pengendalian : Setelah biji buncis ditanam sebaiknya segera diberi penutupjerami daun pisang, penanaman dilakukan secara serentak. Bila tanaman sudah terserangsecara berat maka segeralah dicabut dan dibakar atau dipendam dalam tanah,apabila erangan belum terlalu berat maka segeralah diberi insektisida.

4. Kutu daun

Gejala akan lebihjelas terlihat pada tanaman-tanaman yang masih muda. Bila serangannya hebat,maka pertumbuhannya. Menjadi kerdil dan batang memutar (mimilin). Daunnyamenjadi keriting dan kadang berwarna kuning.

Pengendaliannya dengan cara memasukkan musuh alaminya yaitu lembing, lalat danjenis dari Coccoinellidae, atau dengan menggunakan insektisida Orthene 75 Sp.

5. Ulat jengkal semu.

Gejalanya dibawah daunterdapat telur yang bergerombol. Setelah menetas ulatnya akan memakan daun-daunbaik yang muda maupun yang tua. Daun menjadi berlubang bahkan dapat habis samasekali. Akibatnya, tanaman menjadi kerdil karena tidak sempurna melakukanfotosintetis. Pengendaliannya : dapat dibunuh satu persatu atau dengansanitasi, yaitu membersihkan gulma-gulma yang dapat dijadikan sebagai tempatpersembunyian hama tersebut. Bisa juga dengan menggunakan insektisida Hotathion40Ec.

6.Ulat penggulung daun

Gejalanya daunkelihatan seperti menggulung dan terdapat ulat yang dilindungi oleh benangsutera dan kotoran. Polongnya sering pula ikut direkatkan bersama-sama dengandaunnya. Daun juga nampak berlubang-lubang bekas gigitan dari tepi sampaiketulang utama, hingga habis hanya tinggal urat-uratnya saja. Pengendaliannya :sebaiknya daun yang terkena segera dibuang atau dibakar, apabila masih adaserangan maka dilakukan penyemperotan dengan insektisida. Insektisidanya yaituAzodrin 15 WSC.

Tips lainya dari Buncis :


B. PENYAKIT PADA TANAMAN BUNCIS.

1 Penyakit Antraknosa.

Gejala : Polong Buncismuda terdapat bercak-bercak kecil dengan bagian tepi warna coklat karat denganwarna kenerah-merahan. Bentuknya tidak beraturan antara yang satu dengan yanglain, bila udara lembab akan terdapat spora yang berwarna kemerah-merahan. Pengendaliannya: Sebaiknya dipilih bibit yang benar-benar bebas dari penyakit atau dapat jugadengan merendam benih dalam fungisida Agrosid 50SD sebelum ditanam. Denganpenyemperotan fungisida Delsene Mx200, konsentrasi 1-2 gr/lt air. Juga bisadengan fingisida Velimek 80WP dengan konsentrasi 2-2,5gr/lt air.

2. Penyakit Embun Tepung.

Gejala : Daun, batang,bunga dan buah berwarna putih keabuan (kelihatan seperti kain beludru).Pengendaliannya : Bagian yang sudah terserang sebaiknya dipotong atau dibakar.Dapat juga disemprot dengan fungisida Morestan 25WP, konsentrasinya 0,5 – 1gr/lt air dan volume larutan 1.000 lt/ha.

3. Penyakit Layu.

Gejala : Tanaman akanterlihat layu, kuning dan kerdil. Bila batang tanaman yang diserang dipotongmelintang, maka akan terlihat warna coklat atau dipijat akan keluarlah lendiryang berwarna putih. Pengendaliannya : Dilakukan dengan cara menyiram tanaman denganair yang bebas dari penyakit, bila hendak membuat persemaian lebih baik tanahdisterilisasi dulu dengan air panas 100o C. Dilakukan dengan penyemprotanfungisida Agrept 20 WP dengan konsentrasi 0,5 – 1/lt air.

4. Penyakit Bercak daun.

Gejala : Daun bercakkecil berwarna coklat kekuningan lama kelamaan bercak akan melebar dan bagiantepinya terdapat pita berwarna kuning. Akibat lebih parah, dau akan menjadilayu dan berguguran. Bila sampai menyerang polong, maka polong akan bercakkelabu dan biji yang terbentuk kurang padat dan ringan. Pengendaliannya :

Benih buncis direndam dulu dalam air panas dengan suhu 48 C selama 30menit. Bilas dengan air dingin dan keringkan. Dengan penyemprotan menggunakanBaycor 300EC, konsentrasi 0,5 – 1 lt/ha. Bisa juga menggunakan Bayleton 250EC,konsentrasi 0,25-0,5 lt/ha.

5. Penyakit HawarDaun.

Gejala : Pertama-tamaterlihat bercak kuning dibagian tepi daun, kemudian meluas menuju tulang bagiantengah. Daunnya terlihat layu, kering dan coklat kekuningan. Bila serangannyahebat, daun terlihat berwarna kuning, seluruhnya dan akhirnya rontok, gejalatersebut dapat meluas kebatang, sehingga lama kelamaan tanaman akan mati.Pengendaliannya : Dengan cara memilih benih yang berkwalitas baik. Perendamanbenih dalam Sublimat dengan dosis 1gr /Lt air selama 30 menit.

6. Penyakit Busuk Lunak.

Gejala : Daunbebercak, berair warnanya menjadi kecoklatan. Gejala ini cepat menjalar keseluruh bagian tanaman. Sehingga tanaman menjadi lunak, berlendir dan berbaubusuk. Pengendaliannya : Tanaman yang sudah terserang berat sebaiknya dibuangdan di bakar, dapat dilakukan dengan menyemprotkan Cupravit OB-21, dengankonsentrasi 4gr/lt air, Delsene Mx200, konsentrasi 2-4 gr/lt air.

7. Penyakit Karat.

Gejala : Pada jaringandaun terdapat bintik-bintik kecil berwarna coklat, baik dibagian daun sebelahatas maupun sebelah bawah. Biasanya dikelilingi dengan jaringan khlorosis.Pengendaliannya : Dapat ditanam varitas buncis yang tahan dengan penyakit karatyaitu ; Manoa Wonder. Tanaman yang terserang berat sebaiknya dicabut dandibakar.

8. Penyakit Damping Of.

Gejala : Bagian batangbawah yang terletak dibagian keping biji terlihat berwarna putih pucat karenamengalami kerusakan khlorofil. Pengendaliannya : Siram tanaman dengan air yangbebas penyakit, media semai yang dipakai juga yang telah disterilkan terlebihdahulu. Bisa juga menggunakan Antracol 70WP, konsentrasi 2gr/lt air, volumelarutan 600-800 lt/ha.

9. Penyakit Ujung Kriting.

Gejala : Daun-daunmuda menjadi kuning dan keriting, sedangkan daun yang sudah tua menggulung /melilin. Penegndaliannya : Dengan menanm tanaman yang resisten (tahanpenyakit). Apabila tanaman yang sudah terserang penyakit, sebaiknya segeradicabut atau dibakar.

Hama Penyakit dan Gulma Pada Tanaman Sagu

Hama, Penyakit dan gulma adalah masalah yang selalu dihadapi oleh para petani dan pada kesempatan ini kita akan mengulas sedikit tentang masalah yang sering dihadapi oleh para petani sagu dan berikut ulasanya.


Ciri: Tubuhnya berbulu pendek dan sangat rapat pada bagian ekornya. Kepompong berwarna kuning dengan ukuran yang lebih kecil daripada lundi, terbungkus dalam bahan yang terbuat dari tanah. Kumbang dewasa berwarna merah sawo, berukuran 3-5 cm. Imago (kumbang dewasa) meninggalkan rumah kepompongnya pada malam hari dan terbang ke pohon sagu. Gejala: terdapat lubang pada pucuk daun bekas gerekan kumbang, setelah berkembang tampak terpotong seperti digunting dalam bentuk segitiga. Bila titik tumbuhnya rusak, sagu tidak mampu membentuk daun lagi dan akhirnya mati. 

Pengendalian mekanis: pohon-pohon sagu yang mendapat serangan ditebang dan dibakar, sedangkan pucuknya dibelah-belah, kemudian diberi Aldrin 40% WP yang dipakai sebagai perangkap. Penebangan pohon menggunakan gergaji mekanis atau kapak. Bila menyerang sagu muda, maka Oryctes dapat dimatikan dengan kawat runcing yang ditusukkan ke Oryctes pada lubang gerekan sampai tembus badannya dan ditarik keluar. Pengendalian: pada pucuk pohon diberi Heptachlor 10 gram, Diazinon 10 gram, dan BHC. Sedang cara biologis adalah dengan Oryctes dapat diserang oleh cendawan (Meterrhizium anisopliae) yang sifatnya sebagai parasit pada stadium larva, tetapi daya bunuhnya terlalu rendah. Selengkapnya tentang Oryctes rhinoceris sp

Tanaman Sagu
b) Kumbang sagu (Rhynchophorus sp)

Terdapat beberapa jenis, yaitu: 
  • Rhynchophorus ferrugineus, Oliv (kumbang sagu); 
  • Rhynchophorus ferrugineus, Oliv varietas Schach, Fan 
  • Rhynchophorus ferrugineus, Oliv varietas Papuanus, Kirsch. 
Perbedaannya terletak pada bentuk, ukuran dan rupa kumbang dewasa. Ciri serangan sekunder setelah kumbang Oryctes biasanya meletakkan telur di luka bekas Oryctes. Bila serangan terjadi pada titik tumbuh dapat menyebabkan kematian pohon. Pengendalian: sama dengan kumbang Oryctes.


c) Ulat daun Artona (Artona catoxantha, Hamps. atau Brachartona catoxantha)

Ciri: 
  1. Kupu-kupu Artona catoxantha, Hamps. berukuran panjang 10-15 mm, dengan jarak sayap 13-16 mm, sayapnya berwarna hitam merah kecoklatan. Pada punggung depan, bagian perut dan pinggir sayap depannya bersisik kuning. Kupu- kupu Artona bergerak aktif siang hari dan malam hari; 
  2. Ulat Artona berwarna putih kuning berukuran sampai 11 mm. Pada pungungnya terdapat garis lebar berwarna kemerah-merahan. Bagian depan badannya lebih besar dibanding bagian balakang. Stadium ulat ini berlangsung selama 17-22 hari. Pada stadium inilah kerusakan tanaman sagu terjadi, yaitu dengan menggerek anak daun sagu.

Gejala: 
  1. Tingkat serangan titik adalah ulat/larva yang baru menetas masuk dalam jaringan daun dan memakan daging anak daun, bekas serangan ini dari bawah tampak sebagai bintik-bintik kecil yang tidak tembus; 
  2. Tingkat serangan garis adalah ulat Artona yang lebih besar menyusup lebih meluas, sehingga bekas serangga tampak seperti garis-garis; 
  3. Tingkat serangan pinggir adalah yang menggerek daun sagu adalah ulat Artona yang lebih besar/tua, berpindah tempat ke bagian pinggir dan memakan bagian anak daun pinggir; 
  4. Tingkat serangan akhir adalah pada tingkatan ini daun-daun menjadi sobek-sobek. Daun yang paling disenangi adalah daun tua. Daun bekas serangan seperti terbakar. Pengendalian mekanis: daun-daun yang diserang Artona dipangkasi, serangan Artona yang berat akan mengakibatkan pelepah daun tinggal memliki 2/3 daun saja. Waktu pemangkasan daun-daun yang diserang Artona adalah bilamana dalam 200-300 daun sagu yang diambil secara acak, mengandung lima atau lebih stadium hidup Artona (telur, larva, kepompong, atau kupu-kupu). Pemangkasan harus sudah dilakukan dua minggu sesudah Artona memiliki panjang 8 mm, sehingga banyak Artona yang gagal menjadi kupu-kupu. Pengendalian biologis: menggunakan parasit, antara lain: 
  • Taburkan (Apanteles artonae) yang biasanya menyerang ulat Artona pada instar kedua; 
  • Lalat Ptychomyia remota atau Caudurcia leefmansii yang menyerang ulat Artona pada instar berikutnya. Pengendalian kimiawi: menggunakan bahan kimia Arcotine D-25 - EC, dengan dosis 4 kg/ha.
d) Babi hutan

Binatang ini merusak sagu tingkat semai dan sapihan (umur 1-3 tahun), memakan umbut (pucuk batang yang masih muda). Pengendalian: memburu dan membunuhnya agar populasi terkendali, sehingga kerusakan yang ditimbulkan berkurang. Selain itu dengan umpan yang diberi racun fosfor sebanyak 2-5 gram.

e) Kera (Macaca irus)

Kera yang hanya terdapat di daerah pegunungan dengan 1500 m dpl, merusak bagian sagu muda, yaitu umbutnya. Binatang ini mempunyai kebiasaan selalu merusak lebih banyak daripada yang dibutuhkan. Pengendalian: sama dengan pengendalian babi hutan.

Penyakit dan gulma pada tanaman sagu

Bercak kering

Penyebab: cendawan Cercospora. Gejala: daun berbercak-bercak coklat dan dapat mengakibatkan seluruh daun berbercak-bercak kering atau berlubang-lubang. Bila serangan cukup hebat, kanopi tanaman sagu nampak meranggas.

Pengendalian: belum ada secara khusus, hanya pemakaian fungisida dan sanitasi lingkungan.

Gulma

Pengendalian gulma dapat diperjarang atau dihentikan sama sekali bila sagu sudah berumur lima tahun ke atas. Pengendalian secara mekanis adalah gulma dibersihkan dan dimatikan dengan sabit, parang, cangkul, dan sebagainya. Gulma hasil penyiangan dijadikan pupuk kompos. Sedangkan secara kimiawi adalah dengan cara penyemprotan herbisida yang dilakukan secara teratur, misalnya 2-4 minggu sekali, disesuaikan dengan kondisi gulmanya. Herbisida yang dianjurkan adalah herbisida kontak, seperti PARACOL.

Pengendalian secara kultur teknis dilakukan jika lahan tidak diganggu banjir dan kondisi tanah tidak terlalu basah. Caranya dengan menanam tanaman penutup tanah leguminosa (Leguminosa Ground Cover=LCG). Dengan penanaman LCG, maka akan diperoleh manfaat ganda, yaitu pertumbuhan gulma dapat ditekan semaksimal mungkin dan tanah mendapat perbaikan kondisi kimiawi, biologis, dan fisis. LCG yang dapat digunakan adalah: Calopogonium sp.; Centrocema sp.; Vigna husei.

Hama Lalat Putih

Lalat Putih (bamisia tabaci genn). Juga dikenal dengan kutu kebul.lalat dewasa mempunyai dua pasang sayap berwarna putih kekuning-kuningan dengan panjang 1 mm. Sayap tertutup lapisan tepung lilin berwarna putih. Memiliki mata berwarna merah. Lalat betina berukuran lebih besar dari lalat jantan. Hidup berkelompok dalam jumlah yang banyak. Jika betina bertelur, telurnya akan diletakan dibawah permukaan daun. jika tanaman yang tersentuh manusia, lalat ini akan berterbangan seperti kabut yang berwarna putih.

Gejala serangan lalat putih ditnadai dengan munculnya bergak netrotik pada daun akibat diisapnya cairan sel. Jika populasinya tinggi, tanaman yang terserang akan tumbuh kerdil, terjadi klorosis pada daun, serta daun mengecil dan menggulung ke atas. Selain itu, pembentukan bunga dan buah bisa terhenti secara tiba-tiba, sehingga buah yang dihasilkan tanaman menurun.

Hama Lalat Putih
Embun madub yang dikeluarkan lalat ini juga bisa menimbulkan jamur embun jelaga yang berwarna hitam. Lalat putih juga menjadi vektor virus TYLCV (tomato yellow leaf curl virus).

Cara mengatasi lalat putih sebagai berikut.

1. Cara hayati, yakni dengan menyebarkan musuh alami lalat putih dilahan penanaman. Musuh alami bisa berupa parasit encarsia sp. Ataupun predator Scymnus sp, Menochillus sp, dan amblyseius sp.

2. Kultur teknis, yakni dengan membersihkan gulma dilahan penanaman, melakukan rotasi tanaman, dan melakukan sistem tumpang sari dengan cabai atau tegetes.

3. Cara mekanis, yakni dengan mencabut dan membakar tanaman yang terserang, memasang perangkap buah yang berbahan aktif methyl eugenol, dan menanami pinggiran lahan dengan tanaman penghalang seperti jagung dan bunga matahari.

4. Cara kimiawi, yakni dengan melakukan penyemprotan pestisida jenis Insektisida, seperti Methamidophos 50% dengan dosis sesuai sengan yang tertera dalam kemasan. Pada sistem hidroponik, gunakan Curacron 500EC, Confidor 5WP, atau Pegasus 500SC.

Hama Tungau Merah

Tungau Merah (tetranychus cinnabarinus Boisd) berkaki 8 dengan panjang tubuh 0,3-0,5 mm. Tungau jantan berwarna kemerah-merahan dengan beberapa bercak kecil hitam. Namun, ada juga yang berwarna hijau kekuning-kuningan dengan beberapa bercak hitam, Tungau jantan lebih kecil dari pada tungau betina, Kaki dan mulut Tungau Merah berwarna putih transparan. Kepala menjadi satu dengan dada. Mulutnya mampu menusuk dan menhisap sel tanaman.

Selain itu, mulut juga menggigit dan menggergaji . telur tungau merah berukuran kecil dengan diameter 0,15 mm dan berwarna kuning pucat atau sedikit kemerahan.

Tungau Merah menyerang daun, sehingga daun nampak berbercak merah karat. Umumnya, serangan hama ini terjadi pada musim kemarau. Serangan yang hebat dapat membuat tanaman menjadi kerdil. Selain bercak merah karat, dibalik daun yang terserang akan tampak nyaman benang halus yang menjadi sarang tungau. Akibat serangan yang terus menerus, daun menjadi kering karena cairan selnya habis terhisap.

Tungau Merah bisa diatasi dengan cara sebagai berikut ini.

1. Kultur Teknis, yakni dengan melakukan penyiangan secara rutin, sehingga tungau tidak memiliki tempat berlindung. Cara lainya yaitu dengan menanam varietas tomat tahan hama tungau merah.

2. Cara hayati, yakni dengan menyebarkan musuh alami tungau merah, seperti thrips dan kumbang macan di sekitar lahan penanaman.

3. Cara Kimiawi, yakni dengan menyemprotkan menggunakan pestisida jenis Akarisida, misalnya seperti: Samite 135EC, juga dengan pengembusan tepung belerang.

Hama Tungau Bercak Dua

Tungau Bercak Dua (tetranychus urticae koch) berbentuk oval, berkaki 8, panjang tubuh 0,3-0,4 mm. Selain itu, kedua sisi samping berwarna kuningpucat dengan bercak hitam, sehingga disebut dengan tungau bercak dua. Mulut berfungsi untuk menusuk dan menghisan cairan tanaman.

Tungau betina bertelur di balik daun dan meletakan satu persatu telur. Telur berukuran kecil-kecil dengan diameter sekitar 0,15 mm. Setiap kali bertelur menghasilkan sekitar 100 butir dan menetas setelah 5-6 hari.

Tungau bercak dua mulai menyerang tanaman sejak mesih berbentuk larva. Gejalanya adalah warna daun dan tunas tanaman menguning. Selanjutnya, daun menjadi cokelat dan kering. Hama Tungau ini biasanya bersembunya dibalik permukaan daun. Selain itu, tungau ini bisa menularkan virus ketika musim kemarau berlangsung.

Untuk mengatasi tungau bercak dau bisa dilakukan dengan cara berikut ini.

1. Cara Hayati, yakn i dengan menyebarkan musuh alami tungau bercak dua di sekitar lahan penanaman, seperti jamur entomophthora fresenii, thrips scolotthrips sexmaculatus, dan tungau phytopseiulus persimilis.

2. Kultur Teknis, yakni dengan melakukan penyiangan gulma secara rutin, Contoh menanam varietas tomat tahan hama tungau, dan tidak melakukan budidaya tomat ketika musim hujan berlangsung.

3. Cara Kimiawi, yakni dengan menyemprotkan menggunakan pestisida jenis Akarisida, misalnya seperti: Samite 135EC, juga dengan pengembusan tepung belerang.

Hama Lalat Buah

Lalat Buah (Dacus dorsalia hend, atau bactrocera app.) memiliki sayap transparan dengan panjang 5-7 mm, sementara panjang tubuh 6-8 mm. Bagian perut berwarna cokelat muda dengan garis melintang berwarna cokelat tua. Bagian dada berwarna cokelat tua dengan bercak kuning atau putih.

Tetapi ketika dewasa berwarna kekuning-kuningan, Panjang belatung 1 cm, Telur yang dihasilkan memiliki panjang 1,2 mm dan lebar 0,2 mm, kedua ujungnya runcing, dan bewarna putih.

Lalat Buah menyerang tanaman tomat dengan memasukan telur ke dalam buah menggunakan organ tusuk (ovipositor) hingga kedalaman 5-6 mm. Dalam sekali bertelur bisa menghasilkan 10-15 butir.

Hama Lalat Buah
Didalam buah, telur akan kenetas dalam waktu 30-36 jam dengan suhu 25-30 ⁰C. Karenanya, jika buah dibuak akan nampak belatung berwarna putih.

Biasanya, satu buah diserang oleh lebih dari satu lalat buah, sehingga dalam buah tersebut banyak terisi telur. Bekas luka tusukan pada buah akan memicu tumbuhnya jamur dan bakteri.

Lalat Buah bisa di atasi dengan cara sebagai berikut :

1. Kultur teknis, yakni dengan melakukan pembersihan gulma secara rutin dan memasang umpan yang mengandung feromon.

2. Cara mekanis, yakni dengan memetik sekaligus memusnahkan tanaman yang terserang.

3. Cara hayati, yakni dengan menyebarkan musuh alami lalat buah di lahan tanaman tomat. Musuh alami yang digunakan berupa semut, laba-laba, dan kumbang.

4. Cara kimiawi, yakni dengan menyemprotkan pestisida jenis Insektisida seperti: Curacron 500EC dan Petrogenol 800L dengan dosis sesuai petunjuk dalam kemasan.

Back To Top